Para ulama bersepakat tidak wajibnya shalat berjama’ah bagi wanita, akan tetapi tidak dilarang apabila mereka akan mendirikan shalat berjama’ah. Apabila mereka melaksanakan shalat berjama’ah dengan sesama wanita, akan mendapatkan pahala yang disebutkan dalam hadits;

صلاة الجماعة تفضل صلاة الفذ بسبع و عشرين درجة

“Shalat berjama’ah lebih baik dibanding shalat sendirian dua puluh tujuh derajat.” (HR Bukhari no. 645 dan Muslim no. 650)

Pada dasarnya shalat wanita sama saja seperti shalatnya laki-laki, namun ada beberapa hal yang membedakannya. Di antaranya pada letak imam saat mereka mendirikan shalat berjama’ah.

Posisi Imam Wanita

Apabila seorang wanita menjadi imam shalat berjama’ah sesama wanita, maka imam berdiri di tengah-tengah shaf jama’ah sejajar dengan makmumnya. Bukan di depan jama’ah seperti yang dilakukan pada jama’ah shalat laki-laki. Hal itu didasari pada perbuatan Ibunda Aisyah radiyallahu ‘anha.

أن عائشة أمتهن و قامت بينهن في صلاة مكتوبة

“Bahwa Aisyah mengimami mereka (para wanita, pent) dan ia berdiri di antara mereka pada shalat wajib.” (HR Abdurrazaq dalam Mushannaf, Daruquthniy, al-Baihaqiy. Hadits ini shahih karena penguat-penguatnya)

Hal ini juga berdasarkan perbuatan Ummu Salamah manakala ia mengimami para wanita ia berdiri di tengah-tengah mereka, sejajar dengan para makmumnya.

Ibnu Qudamah al-Maqdisi al-Hambali mengatakan;

إذا ثبت هذا، فإنها إذا صلت بهن قامت في وسطهن، لا نعلم فيه خلافا بين من رأى لها أن تؤمهن، ولأن المرأة يستحب لها التستر، ولذلك لا يستحب لها التجافي، وكونها في وسط الصف أستر لها؛ لأنها تستتر بهن من جانبيها

“Apabila telah tetap (bolehnya wanita mengimami, pent), jika ia mengimami jama’ah wanita maka imam berdiri di tengah-tengah mereka. Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di antara ulama yang berpendapat bolehnya wanita mengimami sesama wanita. Karena disunahkan bagi wanita untuk lebih tertutup. Karenanya tidak diperkenankan bagi wanita untuk terbuka, dan letak imam di tengah-tengah shaf lebih menutup bagi wanita, demikian karena tertutupi oleh jama’ah di sampingnya.”  (al-Mughni 2/149)

Berdasarkan riwayat di atas kita ketahui bahwa wanita apabila bertindak sebagai imam bagi para wanita, ia berdiri di tengah-tengah shaf bersama makmum. Bukan berdiri di depan jama’ah sebagaimana jama’ah shalat laki-laki.

Wallahu Ta’ala A’lam

Mau artikel ini dalam bentuk dokumen ?

Silahkan download disini

Artikel sobathijrah.com
Djati Purnomo Sidhi