Idul Fitri merupakan hari raya khusus bagi umat Islam yang dirayakan setiap tahun. Sebagaimana ditunjukan dalam sebuah riwayat dari Anas bin Malik Radiyallahu ‘anhu, ia menceritakan;

“Dahulu kaum jahiliyyah memiliki 2 hari dalam setiap tahun, untuk bermain dan bersuka cita. Maka tatkala Nabi datang ke Madinah, ia mengatakan,”Dahulu kalian memiliki 2 hari raya untuk bersenang-senang. Sungguh Allah telah mengganti untuk kalian dengan dua hari raya yang lebih baik dari keduanya, yaitu Iedul Fithri dan Iedul Adha.” (HR Abu Dawud, an-Nasa’i, dinilai shahih oleh al-Albani)

Pada hari Idul Fitri yang spesial, ada adab dan sunnah-sunnah yang harus diperhatikan oleh umat Islam dalam merayakannya. Sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat. Di antara sunnah-sunnah beliau adalah :

  1. Sebelum melaksanakan shalat Idul Fitri, kita mandi dahulu seperti ketika mandi junub.
    Dari Abdullah bin Umar, beliau mandi hari raya Idul Fitri dan Idul Adha seperti mandi junub. (HR Baihaqi)
  2. Memakai pakaian yang terbaik dan memakai parfum bagi laki-laki. Bagi wanita tidak diperkenankan mengenakan pakaian yang menyerupai laki-laki, wanita kafir, maupun memakai wewangian yang memikat lawan jenis.
  3. Makan beberapa butir kurma sebelum berangkat Shalat Idul Fitri. Kalaupun tidak ada kurma, boleh makan makanan yang lain. Sebagaimana diceritakan oleh Abdullah bin Buraidah dari bapaknya,”Nabi tidak keluar menuju tempat shalat ied pada Idul Fitri sampai beliau makan (terlebih dahulu, pent), dan beliau tidak makan pada Idul Adha sampai selesai melaksanakan shalat.” (HR Tirmidzi)
  4. Melaksanakan shalat Ied secara berjama’ah di tempat terbuka/lapangan (outdoor), apabila hujan maka boleh dilaksanakan di tempat tertutup (indoor). Tujuan shalat ied adalah menampakkan syiar Islam dan mewujudkan kebersamaan bagi kaum muslimin.
  5. Bagi wanita yang berhalangan (haidh) tetap hadir menuju tempat shalat untuk mendengarkan nasehat dan ceramah yang disampaikan oleh khatib.
  6. Mengumandangkan takbir dari pagi hari sampai imam memulai shalat ied. Dianjurkan bertakbir dengan suara yang keras di jalan-jalan maupun di tanah lapang.
  7. Memberi ucapan selamat ketika bertemu dengan orang lain. Di antara ucapan selamat yang dilakukan oleh para sahabat seusai shalat ied adalah;

تَقَبَّلَ اللهُ مَنَّا وَ مِنْكُمْ

Taqabbalallahu minnaa wa minkum

“Semoga Allah menerima amalan kami dan amalan kalian.”

Boleh juga memberikan ucapan yang sudah masyhur di masyarakat seperti : Minal ‘Aidin wal Faizin, Kullu ‘Aam wa Antum bikhair.

  1. Dianjurkan menuju tempat shalat dengan berjalan kaki, dan menempuh jalan yang berbeda antara berangkat dan pulangnya.

Walaupun di hari raya Idul Fitri, kebanyakan umat Islam sedang diliputi kebahagiaan dan kegembiraan. Namun jangan sampai kebahagiaan tersebut ternodai oleh kemaksiatan, berpesta pora menghambur-hamburkan uang untuk membeli petasan, bernyanyi-nyanyi, bermain musik, bercampur baur dengan lawan jenis, dan bersalam-salaman dengan orang yang bukan mahram.

Seorang laki-laki tidak boleh menjabat tangan wanita yang bukan mahram dan sebaliknya seorang wanita tidak boleh menjabat tangan lelaki yang bukan mahramnya. Suri tauladan kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahramnya, sebagaimana diceritakan oleh Aisyah;

“Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita (bukan mahram, pent) sekalipun. Beliau membaiat para wanita dengan ucapan saja.”

Dalam sebuah hadits disebutkan,”Kepala seseorang ditusuk dengan besi itu lebih baik dibandingkan menyentuh perempuan yang bukan mahramnya.” (HR Thabarani)

Di samping itu, berjabat tangan dengan yang bukan mahram bisa menimbulkan fitnah. Pertama mungkin hanya menjabat tangannya, kemudian diikuti pandangan kepada wajahnya, dan bisa saja lebih parah dari itu.

Adapun dengan orang-orang yang memiliki hubungan mahram diperbolehkan untuk menjabat tangannya. Seperti seorang lelaki menjabat tangan saudari perempuannya, keponakannya, bibinya, mertuanya, ibunya, saudara sebapak/seibu, menantunya, atau yang lainnya.