Seorang anak sebut saja si A. ia mempunyai sebuah tas kesayangan. Tas sekolah itu cukup besar bila dibandingkan dengan tubuhnya. Warnanya hitam mengkilat dengan sedikit aksen putih. Di kanan kirinya terdapat wadah untuk meletakkan botol minuman. Setiap hari tas itu menggelayut di pundaknya, menemani pergi ke sekolah. Tak peduli matahari bersinar dengan teriknya, atau langit murung menurunkan hujan. Tak pernah absen tas itu dipakainya.

Sekian bulan berlalu anak itu menginginkan tas yang baru lagi. Ada apakah gerangan ia menginginkan tas baru lagi?. Ternyata tas kesayangannya itu sudah memudar warnanya. Tak lagi hitam mengkilat, akan tetapi sudah berwarna hitam dengan sedikit putih serta kemerah-merahan. Bagian atasnya sobek karena setiap hari tergesek oleh ujung lancip buku-buku sekolahnya.

Seperti halnya tas kesayangan si anak, segala sesuatu pasti ada masanya untuk rusak dan digantikan dengan yang lain. Kartu perdana mempunyai masa aktif, apabila habis masa aktifnya akan dibuang oleh pemiliknya. Makanan dan barang-barang konsumsi mempunyai masa expired, apabila sudah lewat tanggal expirednya tentu akan menjadi penghuni tempat sampah.

Termasuk juga manusia. Dilahirkan sebagai bayi mungil dan lucu, kemudian tumbuh menjadi kanak-kanak, masa remaja dan dewasa dilewati, lantas tubuhnya semakin menua dan pada akhirnya ruh meninggalkan jasadnya.

Tubuh yang kuat perlahan-lahan akan melemah. Jalan yang dulu tegap, kini tertatih terbungkuk-bungkuk. Rambut yang hitam pekat, perlahan beruban dan memutih. Nafas yang sekuat kuda, kita mudah sekali ngos-ngosan. Betis yang berisi bak bunting padi, kini tinggal tulang berbalut kulit. Itulah keadaan manusia sampai akhirnya maut datang menjemput. Mau tidak mau, suka tidak suka, pasti kematian akan datang. Allah ta’ala mengabarkan;

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ ١٨٥

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati”. (QS. Ali Imran : 185)

Kematian adalah keniscayaan bagi setiap makhluk bernyawa. Nyawa yang bersemayam dalam raga, suatu saat akan terlepas menghadap penciptaNya. Hanya saja manusia tak akan pernah tahu kapan kematian akan tiba, dan di belahan bumi mana ia akan mati. Karena semua itu adalah rahasia ilahi.

وَمَا تَدۡرِي نَفۡسُۢ بِأَيِّ أَرۡضٖ تَمُوتُۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرُۢ ٣٤

“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Luqman : 34)

Banyak orang yang lalai atau pura-pura lalai bahwa hidup mempunyai masa expired. Suatu saat akan datang Malaikat Maut untuk mengambil ruh yang tersimpan dalam raga. Lantas bagaimana apabila orang yang didatangi oleh Malaikat Maut, akan tetapi tidak ada sedikitpun bekal untuk menjalani kehidupan setelah kematian. Sungguh suatu kerugian. Oleh karena itu jadilah seorang yang cerdas. Cerdas dalam mempersiapkan kehidupan abadi yang akan dijalani, setelah nyawa melewati kerongkongan. Simaklah kisah yang disampaikan oleh Ibnu Umar mengenai perbincangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan seseorang;

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا» ، قَالَ: فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ؟ قَالَ: «أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا، وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ» رواه ابن ماجه

Ibnu Umar menuturkan,”Suatu ketika aku bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Kemudian ada seorang lelaki dari kalangan Anshar mendatangi beliau. Ia memberi salam kepada nabi, kemudian berkata,”Wahai Rasulullah ! orang mukmin manakah yang paling utama?.” Rasul menjawab,”Yang paling bagus akhlaknya”. Kemudian ia lanjut bertanya,”Orang mukmin manakah yang paling cerdas?” Rasulullah menimpali,”Yang paling banyak mengingat mati, dan yang paling baik persiapannya untuk menghadapi hari nanti. Itulah orang yang cerdas”. HR Ibnu Majah dinilai hasan oleh Syaikh Albaniy

Penting sekali untuk kita sering-sering mengingat kematian, sebagai pengingat bahwa hidup di dunia ini tidaklah selamanya. Dunia hanya tempat singgah untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya menuju alam keabadian. Renungkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini;

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ ، يَعْنِي الْمَوْتَ

“Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yaitu kematian.” HR Ibnu Majah no. 4258 dinilai hasan shahih oleh Syaikh Albaniy

Karena kematian adalah pemutus antara alam dunia dan akhirat, jangan sampai terlena dengan kehijauan dan keindahannya. Siapkan tas dan koper untuk diisi dengan amalan shaleh sebagai bekal menuju alam akhirat. Sebelum masa expirednya tiba, karena semua sudah ada masanya.