Kalau ada seseorang yang bilang,”Kok sekarang waktu berjalan cepat sekali, tidak seperti dulu.” Rasa-rasanya itu fakta dan memang seperti itu kenyataannya. Sepertinya baru kemarin merasakan hari pertama berpuasa. Teringat menahan lapar seharian karena belum terbiasa puasa. Tapi sekarang kita sudah di penghujung bulan Ramadhan. Waktu memang berjalan cepat.

Tinggal hitungan hari saja bulan Ramadhan sudah meninggalkan kita. Terus bagimana perasaan kita, masih adem-ayem saja atau malah sudah ada pikiran lain. “Ah aku gak mikirin itu, udah mau lebaran tapi belum punya baju baru nih”. Wah-wah masa mau ditinggal sama sesuatu yang amat sangat istimewa tidak merasa sedih. Harusnya sedih, tapi tidak ada gunanya juga kalau sedih tapi tidak tahu apa yang harus disedihkan.

Apa yang harus disedihkan sih kalau bulan Ramadhan pergi?, bukannya perasaan kita senang karena besok sudah lebaran. Punya baju baru, banyak makanan enak bertebaran, kalau silaturahim ke rumah saudara pasti dikasih uang saku. Masa tidak bahagia.

Sebenarnya manusia terbagi menjadi 2 kelompok dalam menghadapi kepergian bulan Ramadhan ini. Seperti yang dituturkan salah seorang ulama;
فإنَّ صيامَ رمضانَ وقيامَه إيماناً واحتساباً من أسباب مغفرةِ الذنوبِ والتخلصِ من الآثام، فالمؤمن يفرح بإكمال الصومَ والقيام، لِتَخَلُّصِهِ به من الآثام، وضعيفُ الإِيمانِ يفرحُ بإكمالِه لتَخلُّصِه من الصيامِ الَّذِي كان ثقيلاً عليه ضائقاً به صدرُه، والْفَرقَ بين الفريقين عظيم.
“Sesungguhnya berpuasa Ramadhan dan shalat malamnya karena keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, termasuk sebab yang dapat menghapus dosa-dosa dan kesalahan. Seorang mukmin itu senang kalau puasa dan shalat malamnya sudah sempurna (selesai), karena dia terbebas dari dosa-dosa. Sedangkan orang yang lemah imannya gembira sama berakhirnya Ramadhan karena puasa buat dia itu berat dan membuat dadanya sempit. Perbedaan antara dua kelompok ini jauh sekali”. (Majalis Syahri Ramadhan, hal. 172)

Nah, sepantasnya kita bersedih gara-gara akan ditinggal pergi oleh amalan yang pahalanya amat sangat besar. Coba dipikirkan sebentar, mana ada puasa dan shalat malam yang bisa menghapus dosa-dosa kita yang bergunung-gunung banyaknya selain di bulan Ramadhan. Terus juga di mana ada malam yang ketika kita ibadah di malam itu kita bisa mendapatkan pahala senilai 83 tahun 3 bulan ibadah, kecuali malam lailatul qadar. Lagi-lagi adanya Cuma di bulan Ramadhan.

Tapi yang namanya perjumpaan memang harus ada perpisahan. Sebelum bulan Ramadhan benar-benar meninggalkan kita, ada baiknya kita instrospeksi diri dulu. Allah Tabaraka wa ta’ala mengingatkan kita;
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ١٨
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS al-Hasyr : 18)

Apakah di bulan yang mulia ini kita udah ‘gass poolllll’ ibadahnya, atau malah bermalas-malasan. Kalau ternyata kita termasuk yang bolong-bolong ibadah, bersegeralah untuk bertaubat kepada Allah ta’ala dan berusahalah untuk beramal walaupun masih sekedar yang wajib-wajib saja. Akan merugi orang yang bertemu dengan bulan Ramadhan akan tetapi setelah berlalu tidak diampuni dosa-dosanya.

Kalau Ternyata bulan Ramadhan sudah benar-benar pergi. Jangan sampai keadaan kita seperti dahulu lagi sebelum masuk bulan Ramadhan. Karena apa manfaatnya sudah latihan selama sebulan penuh tapi tidak membuat kita jadi lebih jago. Ibaratnya seperti orang latihan tiap hari sprint 1 km, dia latih terus sampai kuat 2 km, eh tiba-tiba dia tidak pernah latihan lagi. Pasti kemampuannya akan menurun bahkan berangsur-angsur hilang. Oleh karena itu Allah Jalla wa ‘Ala berfirman;
وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ ٩٩
“Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (kematian)”. (QS. Al-Hijr : 99)
Itu berarti bahwa tugas kita untuk menyembah Allah, untuk beribadah kepada Allah ta’ala tidak berhenti begitu saja selepas Ramadhan. Tapi harus kita lakukan sampai ajal menjemput.

Masih banyak ibadah-ibadah yang bisa dilakukan selepas Ramadhan. Contohnya puasa sunah, ada puasa syawal, puasa ayamul bidh (3 hari setiap bulan), puasa senin kamis, puasa asyuro. Ada juga qiyamul lail (shalat malam). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyindir orang yang rajin sekali qiyamul lail, tapi kemudian amalannya itu ditinggalkan begitu saja;
يَا عَبْدَ اللَّهِ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ، فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ
“Hai hamba Allah, jangan jadi seperti si fulan. Dulu dia rajin shalat malam, kemudian ditinggalkannya”. (HR Bukhari)
Ataupun kalau benar-benar sulit untuk shalat malam, -tapi kalau susah itu tandanya setan masih ‘friend’ banget – jangan pernah tinggalkan shalat witir, walaupun hanya satu raka’at. Abu Hurairah pernah mendapatkan wasiat dari kekasihnya yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam, bunyinya seperti ini;
أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلاَثٍ: «صِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَرَكْعَتَيِ الضُّحَى، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ
“Kekasihku memberi wasiat dengan 3 hal, puasa tiga hari setiap bulan, 2 raka’at dhuha, dan agar aku shalat witir sebelum tidur”. (HR Bukhari & Muslim)

Mudah-mudahan kita semua masih diberi kesempatan sama Allah ta’ala untuk bertemu dengan bulan Ramadhan lagi tahun depan. Tentunya agar kita bisa memperbaiki ibadah kita yang sekarang ini masih ‘ogah-ogahan’. Agar kita bisa dapat pengampunan dosa yang sudah tidak terhitung seberapa banyaknya, semenjak kita baligh sampai saat ini.

Gunakan waktu yang tinggal beberapa hari menjelang berakhirnya bulan Ramadhan ini buat “gass poooollll” dalam mencari ridhoNya. Jangan sia-siakan buat hal-hal yang tidak bermanfaat. Karena umur manusia itu pendek. Sebagaimana dituturkan oleh baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam;
أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ، إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ
“Umur umatku antara 60 – 70 tahun. Sedikit sekali yang lebih dari itu”. (HR Ibnu Majah, At-Tirmidzy dan dinilai hasan shahih oleh Syaikh al-Albaniy).

Sebagian ulama salaf menceritakan,”Dahulu para ulama salaf berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian berdoa kepada Allah selama enam bulan agar amalannya diterima.” (Lathaiful Ma’arif hal. 148)
Dari al-Hasan al-Bashri ia bertutur,”Sejatinya Allah menjadikan bulan Ramadhan sebagai sarana berpacu. Saling berlomba-lomba dengan ketaatan untuk menggapai keridhoanNya. Ada sekelompok orang yang ikut berlomba dan menang. Ada juga yang tertinggal dan gagal. Sungguh mencengangkan sekali peserta yang tertawa di hari kemenangan orang-orang yang berbuat baik, dan merugi orang-orang yang tidak beramal.” (Ihya’ Ulumudin I/236)

Tidak ada kata lain yang bisa terucap kecuali maksimalkan kesempatan ini buat menambah pundi-pundi pahala kita, yang tiap hari terus terkuras sama dosa dan kemaksiatan. Yang entah berapa kali kita lakukan dalam sehari. Juga agar ketika ditimbang di akhirat nanti, timbangan kebaikan lebih berat dibanding timbangan kesalahan kita. Amiin ya rabbal ‘alamiin

Penulis: Djati Purnomo Sidhi

Artikel sobathijrah.com