Sebagai syarat sah shalat, niat memiliki kedudukan yang sangat penting. Suatu amalan tidak dianggap sah bila tidak disertai niat. Bahkan amalan yang remeh bisa menjadi besar disebabkan oleh niat, begitu juga amalan yang besar akan menjadi remeh dan sia-sia dikarenakan niat. Seorang yang melaksanakan shalat dan seluruh ibadah yang lain harus memperhatikan untuk siapa niat itu ditujukan.

Imam Ibnu Mubarok mengatakan,”Betapa banyaknya amalan kecil namun berpahala besar disebabkan oleh niat, dan betapa banyaknya amalan yang besar mendapatkan pahala yang kecil karena niatnya.”

Niat haruslah ditujukan kepada Allah ta’ala dengan tidak ‘menduakannya’ dalam melaksanakan ibadah. Allah berfirman mengenai wajibnya seorang yang mengerjakan ibadah,  untuk mengikhlaskannya hanya kepada Allah saja, seperti tertera pada ayat berikut ini;

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus. (QS Al-Bayyinah : 5)

Ibnu Rajab mengatakan, “Al-Bukhari membawakan hadis tentang niat di bagian pertama kitab Shahih-nya, sebagai pembukaan bagi kitabnya. Ini menunjukkan isyarat dari beliau bahwa setiap amal yang tidak dimaksudkan untuk mengaharap wajah Allah adalah amal yang batal, tidak ada nilainya di dunia dan di akhirat[1].” Niat yang lurus dan bersih dari noda-noda kesyirikan harus dijaga dan diperhatikan sungguh-sungguh, karena setiap amalan yang ditujukan kepada selain Allah hanya akan membuat amalan tersebut tidak diterima dan berakhir sia-sia.

Hal lain yang harus diperhatikan adalah jangan sampai meniatkan suatu ibadah untuk mendapatkan pujian dari manusia yang melihatnya. Inilah yang disebut riya, suatu penyakit yang menyerang hati manusia, sehingga tidak ikhlas untuk mengharapkan wajah Allah azza wa jalla semata dalam pelaksanaan ibadah.  Diriwayatkan dari Abu Sa’id secara marfu’ bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

”Maukah aku beritahu kalian dengan sesuatu yang lebih aku takuti dari Al-Masih Ad-Dajjal?” Para sahabat menjawab,”tentu wahai Rasulullah”. Rasulullah berkata,”Yaitu syirik yang tersembunyi, seseorang melaksanakan shalat dan membaguskan shalatnya agar dilihat oleh orang lain”. (HR Ahmad)

Rasulullah ﷺ bersabda;

إِنّمَا الأَعْمَالُ بِالنِيَّاتِ وَ إِنَّمَا لِكُلِّ امْرٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya setiap amalan perbuatan itu tergantung dengan niatnya, dan setiap orang akan memperoleh apa yang ia niatkan”. (HR Bukhari No. 54 & Muslim No. 4904)

Imam Nawawi Asy-Syafi’i berkomentar: ”Niat adalah maksud, maka orang yang hendak shalat menghadirkan dalam benaknya shalat yang hendak dikerjakan dan sifat shalat wajib yang ditunaikannya, seperti shalat zhuhur sebagai shalat fardu dan selainnya, kemudian ia menggandengkan maksud tersebut dengan awal takbir.”[2]

Dimanakah Letak Niat?

Masing-masing amal memiliki tempat sendiri-sendiri. Ada amal yang tempatnya di seluruh anggota badan, ada yang tempatnya di lisan, dan ada yang tempatnya di hati. Seseorang yang melaksanakan amal tidak diperbolehkan meletakkan amalnya selain pada tempatnya. Sebagai contoh: Shalat merupakan amal yang letaknya di anggota badan, lisan (bacaannya), dan hati (merenungkan isi salat). Jika ada orang yang melaksanakan salat namun di batin (hati) maka dia tidak dianggap melaksanakan salat, karena shalat bukan semata amalan hati. Contoh lain: Membaca Alquran, letaknya di lisan. Orang yang membaca Alquran dengan di batin tanpa menggerakan bibir maka belum dianggap telah membaca Alquran, sehingga dia tidak terhitung mendapatkan pahala membaca Alquran.

Demikian pula dengan niat. Niat merupakan amal yang letaknya di hati. Seseorang yang berniat pada tempat selain hati, belum dikatakan telah berniat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Niat dalam bersuci, baik wudu, mandi, tayamum, salat, puasa, zakat, kafarah, dan ibadah lainnya tidak perlu dilafalkan dengan lisan, berdasarkan kesepakatan ulama, karena niat bertempat di hati, dengan kesepakatan ulama. Andaikan seseorang melafalkan niatnya namun itu tidak sesuai dengan sesuatu yang ada di hatinya maka yang dinilai adalah niat di dalam hatinya, bukan perkataan yang dia ucapkan.”[3]

Oleh karena itu orang yang hendak sholat harus berniat, dan niat tersebut cukup dalam hati saja tanpa perlu dilafadzkan atau diucapkan. Karena Allah Maha Mengetahui apa yang menjadi niat hambaNya.

Footnote:

[1] Jami’ul ulum wal hikam, hlm. 11

[2] Raudhatul Thalibin, 1/243-244

[3] Al-Fatawa Al-Kubra, 1/213