Kyai dan ulama merupakan sosok yang religius di mata masyarakat. Petuah dan wejangannya bak air mata jernih di musim kemarau. Banyak orang yang dulunya hidup tak keruan, berubah lurus setelah mendapat hidayah dari Allah ta’ala kemudian bimbingan dari alim ulama. Tak heran jika banyak yang berkeinginan untuk sekadar sowan, memohon nasihat dan doa untuk kelancaran hidupnya, atau ingin ngalap berkah karena berkeyakinan bahwa seorang ulama atau kyai memiliki berkah.

Berkah Para Ulama

Anggapan bahwa seorang ulama memiliki berkah memang tak salah. Karena seorang yang beriman, bertakwa dan taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala memiliki kebaikan, keberkahan, dan manfaat yang besar. Allah dengan jelas berjanji akan  meninggikan derajat orang-orang yang berilmu di antara hamba-hambaNya yang lain, hal itu termaktub dalam firmanNya; 

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Mujadilah : 11)

Tata Cara Ngalap Berkah Kepada Kyai dan Ulama

Bagaimanakah cara ngalap berkah kepada kyai dan alim ulama yang sesuai dengan syariat? Paling tidak ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut :

Ngalap Berkah Dengan Menimba Ilmu dari Kyai dan Ulama

Termasuk sifat yang dimiliki oleh seorang ulama yang sholeh adalah memiliki ilmu agama yang mumpuni dan mau mengajari orang lain. Oleh karena itu, siapa saja yang duduk dan berkumpul bersama mereka dapa ngalap berkah dengan ‘nyantri’ sehingga dapat memperoleh ilmu yang bermanfaat –dengan taufik dari Allah-.

Seorang muslim sangat butuh untuk mengetahui hukum-hukum agamanya, sehingga ia bisa beribadah kepada rabbNya dengan ilmu, jalan untuk mengetahui hukum-hukum agama tidak bisa ditempuh kecuali dengan berkumpul dengan para ulama, karena merekalah pewaris para nabi. Sebagaimana dalam hadits,”Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi[1].

Dahulu para sahabat sangat bersemangat untuk bertanya kepada Nabi shalallahu’alaihi wasallam hal-hal yang belum mereka ketahui, dan hal itu dilestarikan oleh generasi setelahnya yaitu salafus sholeh untuk bertanya kepada para pemuka agama dan ulama mereka.

Jika kita mengetahu bahwa permasalahan hukum-hukum syariat sangat beragam, dan sesungguhnya syariat Islam memberikan keputusan hukum sampai hari kiamat, dengan silih bergantinya zaman dan beragam tempat, maka akan diketahui betapa butuhnya kita terhadap ulama yang menerangkan kebenaran serta mengajari perkara-perkara agama. Bumi ini tidak pernah kosong dari mereka pada setiap zaman walhamdulillah. Benarlah apa yang dikatakan oleh salah seorang ulama;

“Kalau saja bukan karena ulama tentu manusia akan seperti binatang, dengan barokah ilmu yang dimilikinya, manusia meninggalkan sifat kebinatangan yang dimilikinya menuju sifat kemanusiaan”[2].

Untuk ngalap berkah berupa ilmu dunia dan akherat dari para ulama, harus senantiasa memperhatikan adab-adabnya. Adab yang paling tinggi adalah mengikhlaskan niat kepada Allah dalam menuntut ilmu.

Baca juga : Menjadi Follower Sejati Rasulullah

Mendengarkan petuah dan nasehatnya

Berkah yang dimiliki oleh orang-orang sholeh bukan sekadar pengetahuannya akan agama serta mengajarkannya kepada orang lain sebagaimana pembahasan lalu. Hanya saja seorang muslim dapat ngalap berkah dengan memperoleh manfaat dari petuah dan nasehatnya kepada orang lain.

Hal ini masuk dalam bab amar makruf nahi mungkar, dakwah di jalan Allah, nasehat bagi makhluk, dan semua itu termasuk sifat-sifat orang-orang sholeh yang terpuji.

Barangsiapa yang berteman dengan orang-orang sholeh, bergaul dengan mereka, mendampinginya, akan ngalap berkah berupa manfaat dari nasehat-nasehatnya dalam menambah motivasi ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Mendapat peringatan agar tidak terjatuh dalam maksiat dan hal-hal yang membahayakan, mendapat arahan untuk beradab dan berakhlak mulia, mendapat pertolongan untuk mengerjakan kebaikan, diingatkan dengan apa yang dijanjikan oleh Allah berupa surga bagi wali-waliNya, ancaman neraka bagi musuh-musuhNya. Peringatan tersebut sangat bermanfaat bagi orang mukmin.

Imam Ibnul Qoyyim mengatakan,”Termasuk berkah seseorang adalah mengajarkan kebaikan, berdakwah di jalan Allah, mengingatkan tentang Allah, dan memotivasi agar taat kepadaNya.  Barangsiapa yang hidupnya kosong dari hal-hal ini maka kosong dari keberkahan, terhapus berkah pertemuan dan berkumpul dengannya.[3]

Mengambil manfaat dari doa mereka

Termasuk manfaat keberkahan orang-orang sholeh bagi diri mereka sendiri dan bagi orang lain adalah doa dan permintaan kepada Allah untuk kebaikan dunia dan akhirat. Doa adalah perkara yang agung, termasuk bagian agung dari ibadah kepada Allah azza wa jalla. Setiap muslim membutuhkan doa dalam setiap sendi kehidupannya, dalam kelapangan dan kesempitan. Allah telah menjanjikan untuk mengabulkan siapa saja yang berdoa kepadaNya. Doa memiliki adab yang harus diperhatikan, dan sebab-sebab untuk dikabulkan, disebutkan dalam tempat lain.

Adapun yang dimaksud di sini, bahwa doa orang-orang sholeh memiliki buah yang bermanfaat dan dampak yang baik di dunia dan akhirat –dengan izin Allah- bagi diri mereka dan orang lain dari saudara-saudaranya sesama mukmin. Sangat mungkin untuk ngalap berkah dari doa, dengan berkumpul dengan orang-orang sholeh. Jarang sekali majelisnya kosong dari doa kepada Allah dengan kebaikan, kesholehan, taufik, ampunan serta rahmat bagi orang-orang yang hadir majelis tersebut.

Begitu juga memungkinkan untuk ngalap berkah dari doa orang-orang sholeh dengan cara meminta didoakan oleh mereka. Khususnya ketika seorang muslim mengalami masalah yang pelik, sakit, atau tertimpa musibah. Meminta mereka untuk berdoa kepada Allah agar diberikan solusi akan masalahnya, atau disembuhkan dari sakitnya. Hal ini termasuk jenis tawasul yang disyariatkan.[4]

 

Mau artikel ini dalam bentuk dokumen ?

Silahkan download disini


[1] HR Abu Dawud no. 3641 (shahih)

[2] Dari kitab “Al-lam’u fiil hawaditsi wal bida’” karya Ibnu At-turkaaniy hal. 5. Dinukil dari kitab “At-tabarruk Anwa’uhu wa Ahkamuhu” hal. 270

[3]Risalah ila kulli muslim” karya Ibnul Qoyyim hal 5-6, dengan perubahan. Dinukil dari kitab “At-tabarruk Anwa’uhu wa Ahkamuhu” hal. 271

[4] Ketiga poin diambil dari kitab “At-tabarruk anwa’uhu wa ahkamuhu” hal. 269-272