Mendengar kata naik pangkat, pegawai mana yang tidak menyunggingkan senyumnya. Rasa lelah, letih dan peluh yang terkuras karena beban pekerjaan menjadi tidak terasa. Naik pangkat berarti, nilai yang tertera di slip gaji akan bertambah banyak. Terbayangkan fasilitas yang didapat juga meningkat. Yang dulunya kerja disuruh-suruh, paling tidak sekarang bisa sedikit menyuruh. Dulu berangkat pake motor butut, sekarang bisa sedikit berbangga dengan motor yang istimewa. Pokoknya naik pangkat adalah suatu berita gembira bagi kebanyakan orang.

Naik pangkat bukan begitu saja dapat dicapai. Ada tahapan-tahapan yang mesti dilalui. Seorang yang bekerja akan dinilai pekerjaannya, apakah memuaskan atau hanya biasa saja seperti kebanyakan orang. Kalaupun pekerjaannya memuaskan atasan karena selalu memenuhi target, masih ada kriteria penilaian lain. Apakah dia memiliki nilai plus yang membuatnya berbeda dibanding rekan-rekannya, misalnya kemampuan untuk memimpin dan mengorganisir. Intinya nilai lebih lah yang membuat orang bisa naik pangkat.

Sekarang kita coba korelasikan antara naik pangkat ini dengan keadaan kita sebagai seorang muslim. Dalam agama Islam seorang hamba memiliki beberapa tingkatan. Dimulai yang paling bawah yaitu muslim, kemudian mukmin, muhsin, dan terakhir adalah derajat wali yang berada di bawah derajat kenabian. Selama ini kita mungkin masih menjalani kehidupan keislaman sebagai seorang muslim dan mukmin saja. Belum naik pangkat untuk mencapai derajat muhsin ataupun derajat wali. Inilah yang akan kita bahas pada artikel ini. Bagaimana caranya kita naik pangkat untuk menjadi seorang wali Allah.

Wali Allah Punya Kesaktian?

Dalam benak kita tergambar bahwa wali itu orang yang sakti, bisa terbang, berjalan di atas air, merubah tandan aren menjadi emas, dan sekian banyak cerita kesaktian yang menjadi dongeng sebelum tidur ketika kecil dulu. Apakah benar seperti itu?

Cerita-cerita itu tidak seratus persen benar, karena banyak juga orang yang mencapai derajat kewalian tapi tidak memiliki kesaktian (karomah) seperti yang sudah disebutkan. Sebut saja para Khulafa’ur Rasyidin, mereka adalah para wali Allah. Harus kita yakini itu. Tapi tidak ada di antara mereka yang memiliki kesaktian “aneh-aneh”. Semuanya manusia biasa yang pada akhirnya juga meninggal.

Siapakah wali Allah?

Allah Ta’ala menyebutkan sendiri dalam firmanNya siapakah waliNya;

ألا إن أولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون * الذين آمنوا وكانوا يتقون * لهم البشرى في الحياة الدنيا وفي الآخرة لا تبديل لكلمات الله ذلك هو الفوز العظيم

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (QS Yunus : 62-64)

Dari ayat di atas, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengambil pendapat tentang wali Allah, beliau mengatakan,”Barangsiapa yang beriman dan bertakwa, maka ia adalah wali Allah.”

Menjadi wali Allah bukan hanya persoalan tentang tampilan luar semata, yang berbeda dengan manusia kebanyakan. Wali Allah bukanlah orang-orang yang pakaiannya compang camping, atau layaknya orang gila. Akan tetapi hakikat kewalian adalah kedekatan, ketakwaan, dan keimanan kepada Allah Jalla wa ‘Ala.

Allah Ta’ala berfirman dalam dalam hadits qudsi:

 “Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang terhadapnya dari-Ku. Tidak ada yang paling Aku cintai dari seorang hamba kecuali beribadah kepada-Ku dengan sesuatu yang telah Aku wajibkan kepadanya. Adapun jika hamba-Ku selalu melaksanakan perbuatan sunah, niscaya Aku akan mencintanya. Jika Aku telah mencintainya, maka (Aku) menjadi pendengarannya yang dia mendengar dengannya, (Aku) menjadi penglihatan yang dia melihat dengannya, menjadi tangan yang dia memukul dengannya, menjadi kaki yang dia berjalan dengannya. Jika dia memohon kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan dan jika dia minta ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni, dan jika dia minta perlindungan kepada-Ku, niscaya akan Aku lindungi.

Baca juga :
Meet Up di Telaga Nabi Muhammad
Menjadi Follower Sejati Rasulullah

Tingkatan Wali Allah

1. Tingkat pertengahan

Orang yang hanya menjalankan kewajiban agama saja serta meninggalkan yang diharamkan oleh Allah Ta’ala.

Seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah dengan berkata, “Bagaimana pendapatmu jika saya melaksanakan shalat yang wajib, berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, lalu saya tidak menambah lagi sedikit pun, apakah saya akan masuk surga?” Beliau menjawab, Ya. (HR. Muslim).

2. Tingkat Tinggi

Wali Allah tingkat tinggi adalah Orang-orang yang senantiasa istiqomah untuk mengerjakan amalan-amalan sunnah setelah yang wajib sudah dikerjakan dengan penuh.

Menjadi wali Allah bisa dicapai dengan ketakwaan dan keimanan kepada Allah Ta’ala yaitu dengan mengerjakan kewajiban dan menjauhi yang diharamkan. Namun untuk menjadi wali Allah tingkat tinggi bisa digapai dengan rutin mengerjakan amalan-amalan sunnah setelah yang wajib sudah dilaksanakan

 

Mau artikel ini dalam bentuk dokumen ?

Silahkan download disini