Hukum Menjadi Wanita Karir

Punya gaji yang cukup besar, bisa belanja ini itu pake duit sendiri, bisa ngasih uang jajan buat adik-adik, bisa nyenengin orangtua. Siapa sih wanita yang gak mau seperti itu. Rasanya sedikit yang menolak deh. Makanya banyak wanita yang selepas sekolah atau kuliah bercita-cita jadi wanita karir.

Sebenarnya bagaimana sih pandangan Islam mengenai wanita karir alias wanita yang bekerja di luar rumah? Apakah diperbolehkan secara bebas seperti pemandangan yang ada saat ini, ataukah ada batasan-batasan yang harus diperhatikan? Artikel ini bakal sedikit mengupas hal itu.

Syaikh al-Munajjid dalam salah satu fatwanya menjelaskan batasan-batasan bagi wanita yang bekerja di luar rumah, beliau menjelaskan ada beberapa poin yang perlu di perhatikan. Poin-poin tersebut adalah sebagai berikut :

Rumah, Tempat Terbaik Untuk Muslimah

(1) Pada asalnya seorang wanita tinggal di dalam rumahnya, tidak keluar kecuali ada kebutuhan. Allah Ta’ala berfirman;

“Dan tinggallah kalian di rumah-rumah kalian, dan jangan bertabarruj seperti tabarrujnya orang-orang jahiliyah.” (QS al-Ahzab : 33).

Walaupun konteks pembicaraan dalam ayat adalah bagi istri-istri nabi, wanita mukminah juga termasuk. Adapun konteks pembicaraan kepada istri-istri nabi dikarenakan kemuliaan dan kedudukan mereka di sisi Rasulullah. Karena mereka adalah panutan bagi wanita-wanita mukminah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Wanita adalah aurat, apabila ia keluar maka setan akan menghiasinya. Dan baginya lebih dekat kepada Allah di rumahnya sendiri.” (HR Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah, dinilai sahih oleh al-Albani as-Silsilah ash-Shahihah no. 2688)

Dalam hadits lain beliau menerangkan mengenai tempat shalat wanita,”Rumah mereka (wanita,pent) lebih baik bagi mereka.” (HR Abu Dawud no. 567, dinilai sahih oleh al-Albani dalam Sahih Sunan Abi Dawud)

(2) Diperbolehkan bagi wanita untuk bekerja di luar rumah, asalkan memenuhi batasan-batasan sebagai berikut :

  • Dia betul-betul butuh untuk bekerja, untuk memenuhi kehidupannya.
  • Pekerjaan tersebut sesuai dengan tabiat wanita, cocok dengan keadaannya sebagai wanita seperti dokter, perawat, pengajar, penjahit, dan yang semisalnya.
  • Pekerjaan tersebut dilakukan di antara para wanita, tidak bercampur baur dengan laki-laki yang bukan mahram.
  • Hendaknya selama bekerja ia konsisten mengenakan hijab syar’i.
  • Pekerjaan tersebut tidak mengharuskannya untuk bepergian (safar) tanpa didampingi mahram.
  • Kepergiannya ke tempat kerja tidak melanggar hal yang diharamkan seperti berduaan dengan sopir, atau memakai parfum yang tercium oleh lelaki (bukan mahram) disekitarnya.
  • Pekerjaan tersebut tidak membuatnya menyia-nyiakan hal yang wajib. Seperti mengatur rumah, mengurus kebutuhan suami dan anak-anak. (islamqa.info/ar/106815)

Apabila tidak ada kebutuhan yang mendesak wanita untuk bekerja di luar rumah seperti wanita yang ditinggal mati suaminya dan butuh menghidupi anak-anaknya, suaminya sakit sehingga tidak dapat mencari nafkah, atau suaminya tidak bertanggung jawab. Hukum asalnya wanita tetap tinggal di rumahnya. Batasan-batasan ini untuk menjaga wanita dari hal-hal yang tidak diinginkan dalam syariat.

 

Mau artikel ini dalam bentuk dokumen ?

Silahkan download disini