Rindu masjid. Ungkapan ini mungkin cocok untuk menggambarkan keadaan kaum muslimin di saat menyebarnya pandemi Corona (Covid-19) hari-hari ini. Rindu akan kebersamaan saat shalat jum’at dan berjama’ah, rindu bertutur sapa setelah selesai ibadah. Sudah berlalu sekian pekan sejak pemerintah mengeluarkan aturan untuk menutup masjid dan tempat-tempat ibadah lainnya, kini kebanyakan kaum muslimin shalat di rumahnya masing-masing.

Dalam keadaan normal, tentu tidak ada yang setuju untuk menutup masjid dari kegiatan ibadah, kecuali orang yang memiliki penyakit dalam hatinya. Namun dalam keadaan tersebarnya wabah yang dapat menular seperti saat ini, ada beberapa alasan yang mendasari bolehnya menutup masjid. Alasan tersebut dijelaskan oleh tim fatwa Syabakah Islamiyah sebagai berikut ini:

Masjid dan area di dalamnya merupakan tempat yang digunakan untuk berkumpul dan saling berdekatan, ini dapat menjadi penyebab menyebarnya wabah di antara jama’ah yang shalat sebagaimana dijelaskan oleh para ahli kedokteran.

Jika perkaranya seperti itu, maka tidak ada jalan lain kecuali menutup masjid untuk shalat jum’at dan berjama’ah, sampai Allah menghilangkan kesusahan ini dan mengangkat wabah dari hamba-hambaNya. Hukumnya bisa sampai derajat wajib dengan melihat persebaran wabah dan menurut ketetapan dari pihak yang berwenang.

Adapun dalilnya amatlah banyak, di antaranya adalah pengharaman untuk menjadi sebab tersebarnya bahaya bagi diri sendiri maupun orang lain. Kaidah Fiqih mengatakan (لا ضرر ولا ضرار)“Tidak boleh ada bahaya dan membahayakan orang lain”, kaidah ini merupakan kaidah induk yang sering dijadikan sandaran oleh para ahli fiqih untuk menetapkan hukum syar’i seputar kejadian-kejadian dan permasalahan kontemporer. Asal dari kaidah ini adalah sabda Nabi Muhammad ﷺ,”Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR Malik dari ‘Amr bin Yahya dari ayahnya secara mursal. Diriwayatkan juga oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, Al-Baihaqiy, Daruquthniy dari hadits Abu Sa’id Al-Khudriy. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari hadits Ibnu ‘Abbas dan Ubadah bin Ash-Shamit radiyallahu ‘anhum)

Makna hadits tersebut adalah tidak boleh ada bahaya di dalam syariat (لا ضرر), yaitu menimbulkan marabahaya bagi orang lain secara mutlak. Juga tidak boleh membahayakan (لا ضرار), yaitu menghilangkan bahaya dengan bahaya yang lain. Hal ini menyebutkan keharaman marabahaya secara mutlak dengan segala jenisnya, karena termasuk jenis kezhaliman. Makna “tidak boleh ada bahaya”, juga mencakup tindakan pencegahan sebelum terjadinya dengan melakukan mitigasi dan tindakan yang seharusnya, serta menghilangkan marabahaya setelah terjadinya dengan jalan yang memungkinkan.

Kaidah fiqih yang berkaitan dengan hukum ini (penutupan masjid untuk shalat berjama’ah dan jum’at, pent) adalah kaidah yang berbunyi,(درء المفاسد مقدم على جلب المصالح) ”Mencegah marabahaya lebih diutamakan dibanding mendapatkan manfaat.” Saat terjadi pertentangan antara marabahaya (mafsadah) dan maslahat maka yang diutamakan adalah menghilangkan marabahaya terlebih dahulu. Karena jika dilihat perhatian syariat terhadap hal-hal yang dilarang lebih intensif dibanding terhadap perintah-perintah. Maksud dari mencegah marabahaya adalah mencegah sebelum terjadinya dan menghilangkan apabila telah terjadi (tindakan preventif dan kuratif, pent).

Berdasarkan dalil-dalil serta kaidah-kaidah syariat yang telah dipaparkan di atas mengenai permasalahan ini, maka perkaranya menjadi lebih ditekankan apabila telah keluar ketetapan dari pemerintah kaum muslimin yang berimbas pada penutupan masjid-masjid demi menghindari penyebaran wabah, karantina wilayah, dan penghentian shalat jum’at serta shalat berjama’ah (di masjid, pent) sampai hilang marabahaya tersebut. Dengan adanya ketetapan itu maka perkara tersebut hukumnya menjadi wajib untuk diikuti oleh masyarakat, karena pemerintah apabila memerintahkan suatu perkara yang memiliki maslahat dan sesuai dengan sisi syar’i maka wajib untuk mentaatinya lahir dan batin. Begitu juga jika terjadi perbedaan di antara masyarakat mengenai maslahat dalam perkara ini, dan pemerintah memilih keputusan berdasarkan anjuran dari para pakar, sebagaimana yang terjadi pada wabah ini, maka tetap wajib diikuti dan dilaksanakan.

As-Sarakhsiy mengatakan dalam kitab As-Siyar Al-Kabir,”Apabila pemerintah memerintahkan sesuatu kepada perkara sementara masyarakat tidak mengerti apakah perintah itu bermanfaat atau tidak, maka mereka tetap menaatinya, karena kewajiban untuk taat berdasarkan nash yang pasti. Sedangkan perbedaan dalam memandang perintah itu bermanfaat ataukah tidak, tidak bisa untuk menggugurkan dalil yang pasti.

Ini yang dapat disampaikan dan kami tekankan peringatan penting ini, yaitu bagi negara untuk mengawal peraturannya secara intensif, mengevaluasinya secara berkala ketetapan yang berkaitan dengan ini dari semua segi. Kapan saja apabila dirasa sudah aman bagi kaum muslimin untuk kembali ke masjid-masjid serta mendirikan shalat jum’at dan jama’ah di dalamnya, wajib bagi pemerintah untuk segera membuka masjid, dan mempersiapkannya untuk digunakan shalat oleh masyarakat. Walaupun berbagai aspek kehidupan yang lain belum pulih seperti sedia kala. (islamweb.com)

Hendaknya kita terus berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala agar segera mengangkat wabah Corona ini dari muka bumi, dan mengembalikan keadaan menjadi baik dan aman seperti sebelumnya. Sehingga kaum muslimin dapat beribadah lagi secara berjama’ah dengan tenang. Âmîn

 

Banyumas, 17 April 2020

Djati Purnomo Sidhi

 

Teks Fatwa Syabakah Islamiyah:

والمساجد – بحكم مساحتها، وهيئة اجتماع من يرتادونها، وتقارب بعضهم من بعض – مظنة قوية لانتقال العدوى، وانتشار الوباء بين المصلين؛ كما يقول الأطباء. ولما كان الامر كذلك، فلا مناص من القول بتعليق الجمعة والجماعة، حتى يكشف الله هذه الغمة، ويرفع عن عباده هذا الوباء، بل قد يصل الأمر إلى الوجوب بحسب استفحال الوباء، وما يقرره المختصون.

وأدلة ذلك كثيرة، منها تحريم التسبب في الأضرار بالنفس أو الغير، ومن القواعد الفقهية العظيمة قاعدة ((لا ضرر و لا ضرار))، فهذه القاعدة تعتبر من القواعد الكبرى التي يعتمد عليها الفقهاء في تقرير الأحكام الشرعية للحوادث والمسائـل المستجـدة، وأصل هذه القاعدة قوله -صلى الله عليه وسلم-: لا ضرر ولا ضرار. وهو حديث أخرجه مالك في الموطأ عن عمرو بن يحيى عن أبيه مرسلاً.

وأخرجه الحاكم في المستدرك والبيهقي، والدارقطني من حديث أبي سعيد الخدري، وأخرجه ابن ماجه من حديث ابن عباس وعبادة بن الصامت ـ رضي الله عنهم-.

ومعنى الحديث أنه لا ضرر في الشرع، هو: إلحاق مفسدة بالغير مطلقاً. وأنه لا ضرار فيه، هو: مقابلة الضرر بالضرر.

وهو يفيد تحريم الضرر مطلقا بشتى أنواعه؛ لأنه نوع من أنواع الظلم؛ ويشمل ذلك دفعه قبل وقوعه بالتدابير والإجراءات اللازمة، ورفعه بعد وقوعه بالطرق الممكنة.

ومن القواعد الفقهية التي يرتكز عليها هذا الحكم أيضا قاعدة ((درء المفاسد أوْلى من جلب المنافع))، فإذا تعارضت مفسدة ومصلحة قُدِّمَ رفع المفسدة؛ لأن اعتناء الشرع بالمنهيات أشد من اعتنائه بالمأمورات، والمراد بدرء المفاسد دفعها قبل وقوعها ورفعها، إن وقعت.

ودليل هذه القاعدة قوله -صلى الله عليه وسلم-: ما نهيتكم عنه فاجتنبوه، وما أمرتكم به فائتوا منه ما استطعتم.

ومع ما تقدم من أدلة وقواعد شرعية في المسألة – محل السؤال – فان الأمر يزداد تأكيدا إذا صدر به قرار من ولاة أمور المسلمين يقضي بإغلاق المساجد للحيلولة دون انتشار الوباء، ومحاصرته، وتعليق صلاة الجمعة والجماعة إلى أن يزول الضرر. فبذلك القرار يصير الأمر واجبا في حق العموم، لما تقرر من أن ولي الأمر إذا أمر بما فيه مصلحة معتبرة، وله وجه شرعي، وجبت طاعته ظاهرا وباطنا.

وإذا اختلف الناس في هذه المصلحة، وكان اختيار ولي الأمر بناء على توصيات أهل الاختصاص – كما هو الشأن في هذه النازلة – تعينت طاعته، وامتثال أمره.

يقول السرخسي في السير الكبير: إنْ أمرهم بشيءٍ لا يدرون أينتفعون به أَمْ لا، فعليهم أن يُطيعوه، لأنَّ فرْضيَّةَ الطَّاعة ثابتةٌ بنصٍّ مقطوعٍ به. وما تردَّد لهم من الرَّأي في أنَّ ما أُمر به ُ منتفعٌ أو غير مُنتفعٍ به لا يصلح مُعارضا للنَّصِّ المقطوع. اهـ

هذا ونؤكد على تنبيه في غاية الأهمية، ألا وهو أن على الدولة مراقبةَ الوضع بدقة، وتقويمَه لحظة بلحظة، ومراجعةَ التقارير المتعلقة بكل جانب من جوانبه، فمتى رأت أنه بالإمكان عودةُ المسلمين إلى مساجدهم وإقامةُ الجمع والجماعات فيها، وجب عليها أن تبادر إلى فتحها، وتمكينِ الناس من الصلاة فيها، ولو كانت مناح أخرى من الحياة العامة ما زالت معطلة