[Mendapat Pengembalian Hutang Lebih Besar Dari Pokoknya]

Pertanyaan:
Apabila kita meminjamkan uang kpda orang lain, lalu orang itu mengembalikan uangnya tapi dilebihkan dg alasan ingin berbagi kpda orang lain.
Misal ada orang pinjam 500rb, lalu mengembalikan 600rb. Yang 100rb bilangnya untuk anak peminjam uang karena baru lahiran Bagaimana hukumnya.
Jazaakallahu khairan.*

Jawaban:

Jika seseorang meminjamkan uang dan tidak memberi syarat di awal harus mengembalikan lebih, dan tidak ada kebiasaan di daerah tersebut jika meminjam uang harus mengembalikan lebih, InsyaAllah boleh diterima kelebihan tersebut. Karena itu termasuk bentuk pengembalian yg baik dari si peminjam.

Namun, jika tidak ada persyaratan pada awal akad, akan tetapi ada kebiasaan yang berlaku di tempat itu untuk mengembalikan lebih dari jumlah hutangnya, maka termasuk riba. Karena terdapat kaidah fiqih yang berbunyi:
المعروف عرفا كالمشروط شرطا
“Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan, teranggap sebagai suatu persyaratan”.

Sedangkan dalil yang mendasari bahwa jika tidak ada persyaratan atau kebiasaan boleh untuk melebihkan pengembalian hutang adalah sebuah hadits yang berasal dari Abu Rafi’. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah berutang seekor anak unta dari seorang laki-laki. Lalu datanglah kepada Nabi unta-unta zakat, beliau memerintahkan Abu Rafi’ untuk menyerahkan anak untanya kepada orang tersebut. Tak selang beberapa saat, Abu Rafi’ kembali menemui beliau dan berkata, ‘Aku hanya mendapatkan unta yang telah genap berumur enam tahun.’ Maka, Rasulullah bersabda kepadanya, ‘Berikanlah unta itu kepadanya, karena sebaik-baik manusia adalah orang yang paling baik pada saat melunasi utangnya.” (HR. Muslim, no 3615)

Dari hadits di atas kita mengetahui bahwasanya Rasulullah mengembalikan unta yg lebih baik daripada yg beliau pernah pinjam dahulu. Kalau itu termasuk riba, tentu beliau tidak akan melakukannya.

Wallahu a’lam