Pertanyaan :

Apakah hukum bagi orang yang memasuki waktu subuh, sedangkan dia belum mandi junub? Apakah dia tetap melanjutkan berpuasa atau tidak? Dan jika dia mengikuti pendapat yang mewajibkan untuk melanjutkan berpuasa, lantas bagaimana dengan ucapan dari Abu Hurairah yang berstatus marfu’ (sampai kepada rasul, ed) ,”Barangsiapa yang masuk waktu subuh sedangkan dia dalam keadaan junub, maka tidak berpuasa.”

Jawaban :

Bagi orang yang junub sedangkan waktu fajar (subuh, ed) sudah masuk dan dia ingin berpuasa, hendaklah dia mandi junub dan tetap berpuasa. Tidak ada konsekuensi apapun untuknya, tidak harus mengqodho atau melakukan hal yang lain. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam kitab shahih keduanya, dari Aisyah dan Ummu Salamah radiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah ﷺ ketika masuk waktu fajar, dan beliau masih dalam keadaan junub setelah menggauli istrinya, beliau lantas mandi dan tetap berpuasa. Dalam hadits lain riwayat Muslim dari Aisyah secara jelas bahwa hal itu bukan merupakan kekhususan Nabi ﷺ. Inilah pendapat yang dipegang oleh jumhur (mayoritas) ulama. Abu ‘Isa at-Tirmidziy mengatakan,”Inilah yang diamalkan oleh kebanyakan para ulama dari kalangan sahabat Nabi dan selainnya. Begitu juga ini merupakan pendapat Sufyan, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan Ishaq.

Memang ada beberapa tabi’in yang mengatakan bahwa barangsiapa yang masuk waktu subuh dalam keadaan junub harus mengqodho puasanya hari itu, akan tetapi Imam Tirmidziy mengatakan bahwa pendapat pertama (tetap berpuasa, ed) lebih kuat.

Adapun hadits dari Abu Hurairah yang menyatakan,”Barangsiapa yang masuk waktu subuh sedangkan dia dalam keadaan junub, maka tidak berpuasa.” Maka bisa disanggah dengan beberapa sanggahan. Pertama : Hadits tersebut sudah dimansukh (dihapus hukumnya, ed) dan ini pendapat yang paling selamat, dan ini merupakan pilihan Abu Bakar bin al-Mundzir. Imam Baihaqiy meriwayatkan dalam kitab Sunan Kubra, beliau menyatakan,”Hal terbaik yang pernah aku dengar mengenai hadits ini bahwa telah dinaskh (dihapus hukumnya, ed). Alasannya karena dahulu pada awal Islam, orang yang berpuasa dilarang untuk berhubungan badan pada malam hari setelah bangun tidur, seperti halnya makan dan minum di siang hari. Tatkala Allah Ta’ala memperbolehkan untuk berhubungan suami istri sampai waktu terbitnya fajar, maka bagi orang yang belum mandi junub ketika masuk waktu subuh hendaknya berpuasa pada hari itu. Karena sudah tidak ada larangan lagi.

Dahulu Abu Hurairah berfatwa dengan apa yang didengarnya dari al-Fadhl bin Abbas dengan larangan di awal Islam, dan beliau tidak mengetahui telah dihapus hukumnya. Tatkala mendengar hadits Aisyah dan Ummu Salamah, beliau merevisi pendapatnya.

Kesimpulannya bahwa puasa orang yang junub dan dia masuk waktu subuh dalam keadaan belum mandi janabah sah puasanya. Tidak perlu mengganti puasa, atau membayar kafarah. Sedangkan hadits Abu Hurairah yang ditanyakan hukumnya mansukh (dihapuskan, ed).

Fatwa Syaikh Abdullah bin Abdul ‘Aziz al-‘Aqil yang diringkas dari http://iswy.co/e3tqf

Mau artikel ini dalam bentuk dokumen ? 

Silahkan download disini