Dakwah Islam di Indonesia mengalami perkembangan yang signifikan. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya para juru dakwah, yang terdiri dari alim ulama, kiai, ustadz, ataupun para da’i. Baik da’i kondang yang terkenal di seantero nusantara lewat layar kaca, atau da’i kampung yang meramaikan masjid-masjid dan mushala. Semuanya mempunyai metode tersendiri dalam menyampaikan dakwahnya.

Banyaknya para da’i saat ini seperti angin sepoi-sepoi di hari yang panas. Keberadaan mereka bak oase di padang gersang yang mampu melepaskan dahaga. Dikarenakan banyaknya masyarakat yang mulai melek untuk mendalami agamanya. Masyarakat mulai menanyakan permasalahan agama yang dihadapinya. Selaras dengan firman Allah yang berbunyi;

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (QS An-Nahl : 43).

Berani Berkata Tidak Tahu

Memang selayaknya bagi ahli ilmu atau para da’i menjadi wadah bagi masyarakat untuk menanyakan permasalahan agama, bahkan Allah ta’ala sudah memerintahkannya sendiri pada ayat di atas. Akan tetapi seorang da’i mempunyai etika dalam menjawab pertanyaan yang mampir kepadanya. Salah satu etika yang harus diperhatikan adalah, berani mengatakan “Saya tidak tahu”, ketika ia memang tidak mempunyai jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Jangan pernah malu untuk mengakui bahwa ia belum memiliki ilmu atas pertanyaan tersebut.

Malaikat Tidak Malu Mengatakan Tidak Tahu

Makhluk Allah yang paling taat, yaitu para malaikat. Tidak merasa malu mengakui ketidaktahuannya, ketika disuruh menyebutkan nama-nama benda. Hal itu diabadikan oleh Allah ta’ala dalam kalamNya;

Mereka menjawab: “Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al-Baqarah : 32)

Tentunya bagi manusia, terlebih-lebih lagi seorang da’i lebih pantas untuk mengatakan “saya tidak tahu”. Karena hal itu lebih selamat baginya, dibandingkan apabila ia menjawab tanpa ilmu sehingga mengakibatkan efek yang parah dikemudian hari. Alasan lain yang mendasari terlarangnya hal tersebut adalah firman Allah ta’ala;

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.(QS. Al-Isra’: 36)               

Baca juga : Ngalap Berkah Kepada Kyai dan Ulama

Keteladanan Imam Malik bin Anas rahimahullah

Perhatikan atsar berikut yang bercerita mengenai Imam Malik bin Anas rahimahullah. Abdurrahman bin Mahdiy berkata,”Kami pernah di samping Malik bin Anas. Lalu datanglah seorang lelaki dan berkata kepadanya,”Wahai Abu Abdillah, aku mendatangimu dari daerah yang berjarak 6 bulan perjalanan. Penduduk negeriku telah menitipkan satu permasalahan kepadaku untuk aku tanyakan kepadamu”. Malik menjawab,”bertanyalah”. Lelaki itu pun menanyakan permasalahannya. Malik berkata,”Aku tidak dapat menjawabnya”. Laki-laki itu tercengang, karena ia beranggapan telah menemui seseorang yang mengetahui segala sesuatu. Ia menukas,”Apa yang harus aku katakan kepada penduduk negeriku apabila aku kembali kepada mereka nanti?”. Malik menjawab,”Katakan saja pada mereka, Malik tidak bisa menjawab pertanyaan mereka.” (Jami’ Bayanil ‘ilmi wa fadhlihi no.1573, sanadnya shahih).

                Lihatnya betapa tawadhu’nya Imam Malik, padahal beliau ulama yang bergelar Imam Darul Hijrah (Imamnya penduduk Madinah). Beliau tanpa sungkan-sungkan berkata “Aku tidak dapat menjawab” ketika tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan. Pantaslah ini menjadi renungan bagi kita –terlebih lagi para da’i- apabila ditanya mengenai suatu permasalahan agama, jangan malu atau sungkan mengatakan “Saya tidak tahu jawabannya”. Karena hal itu sejatinya menunjukan kehati-hatian dalam berbicara mengenai permasalahan-permasalahan agama. Jangan sampai kita menjadi orang yang berkata tentang Allah tanpa ilmu. Wallahul musta’an

 

Mau artikel ini dalam bentuk dokumen ?

Silahkan download disini