Jual beli memiliki hukum yang beraneka ragam. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam melarang umatnya dari melakukan 2 transaksi jual beli dalam 1 transaksi. Larangan tersebut tertera dalam Kitab Muwatha’ karya Imam Malik sebuah hadits yang berbunyi;

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، نَهَى عَنْ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam melarang 2 transaksi jual beli dalam 1transaksi.” (HR Malik)

Baca Juga : Begini Cara Kredit Barang Tanpa Riba

Penafsiran Larangan Menggabungkan 2 Transaksi

Lantas apakah yang dimaksud dengan larangan melakukan 2 transaksi jual beli dalam 1 transaksi. Para ulama menjelaskan bahwa ada 2 penafsiran mengenai hal tersebut.Kedua penafsiran tersebut adalah :

Penafsiran Pertama :

Ada seorang yang menjual sebuah barang kepada orang lain. Ia mengatakan,”Barang ini apabila dibeli secara tunai harganya Rp. 100.000, namun apabila dibeli dengan cara kredit maka harganya Rp. 120.000.” Ternyata orang itu mengambil barang berniat membeli. Kemudian mereka berpisah tanpa menentukan apakah akad tunai atau akad kredit yang mereka pakai. Inilah yang disebut dengan larangan 2 transaksi dalam 1 transaksi penjualan.

Penafsiran kedua :

Adapun penafsiran yang kedua adalah:

وهو أن يقول: لا أبيعك هذه السيارة حتى تبيعني هذا البيت، فيربط هذا بهذا، وهذا بيعتان في بيعة، ولا يجوز أن يربط هذا بهذا، بل يكون هذا بيع وهذا بيع.

                Yaitu seorang mengatakan,”Akutidak akan menjual mobil ini kepadamu sampai kamu mau menjual rumahmu kepadaku.”Ia mengkaitkan antara penjualan mobil dengan penjualan rumah. Ini yang disebut dengan 2 transaksi jual beli dalam 1 transaksi. Maka tidak boleh mengkaitkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Akan tetapi hendaklah ia menjadikan sebagai jual beli yang tersendiri.”

Kesimpulan

                Inilah 2 penafsiran mengenai larangan nabi tentang  tidak bolehnya melakukan 2 transaksi jual beli dalam 1 transaksi. Adapun seorang yang menjual barang secara tunai dengan harga sekian, dan harga kredit sekian, kemudian pembeli memilih salah satu akad maka tidak masuk dalam larangan tersebut.Karena pembeli telah memilih 1 akad jual beli yang dilakukan. Baik itu kredit maupun tunai.

Sumber bacaan : Syarh Umdatul Fiqh karya Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihiy

 

Mau artikel ini dalam bentuk dokumen ?

Silahkan download disini