Istighfar dapat menjadi sebab diampuninya dosa dan kesalahan, walaupun dosa-dosanya sudah setinggi langit. Allah Ta’ala akan mengampuni asalkan seorang hamba benar-benar memohon ampun dan beristighfar.

Diriwayatkan dari Anas radiyallahu’anhu dia berkata : Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda :”Allah ta’ala berfirman, “Wahai anak adam selama kamu masih berdoa dan berharap kepadaku maka aku akan mengampunimu bagaimanapun keadaanmu tidak aku pedulikan. Wahai anak adam jikalau dosa-dosamu setinggi langit kemudian kamu meminta ampun kepadaku maka akan aku ampuni. Wahai anak adam apabila kamu mendatangiku dengan dosa sepenuh bumi kemudian kau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apapun yakinlah Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula. (HR Tirmidzy, hadis hasan shohih)

Pengertian istighfar

Istighfar berarti meminta ampunan, dan ampunan adalah ditutupinya dosa dan tidak dihukum atasnya. Ditutupi dosanya sehingga tidak dapat dilihat oleh orang lain dan menjadi nampak. Nanti dihari kiamat Allah akan menyendiri dengan hambanya yang mukmin dan menampakan dosa-dosa hambanya dan berkata, “Telah aku tutupi dosa-dosamu didunia, dan hari ini Aku ampuni kamu”.

Termasuk kemungkaran yang besar apabila seorang hamba menceritakan dan memperlihatkan dosa-dosanya kepada manusia. Telah tertera di shohihain (Shohih Bukhari & Muslim) Bahwasanya Nabi shalallahu’alaihi wasalam bersabda, “Seluruh umatku akan dimaafkan kecuali Al-Mujahirin, dan termasuk Al-Mujahiroh adalah ada seorang yang melakukan suatu perbuatan dimalam hari, dipagi harinya Allah telah menutupi perbuatannya, tapi dia malah berkata kepada orang lain :”Wahai fulan tadi malam aku telah melakukan ini dan itu”, padahal ketika dia tidur Allah telah menutupi perbuatannya, namun dipagi hari dia menyingkapnya sendiri”.

Kebiasaan Nabi dalam beristighfar.

Di dalam Shohih Muslim diriwayatkan dari Al-Aghor bin Al-Muzany, bahwasanya Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam bersabda, “Kelalaian benar-benar bisa menutup hatiku, dan sesungguhnya aku beristighfar sebanyak 100 kali setiap harinya”.

Diriwayatkan pula dalam Shohih Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam bersabda , “Demi Allah Sesungguhnya aku beristighfar dan bertaubat kepadaNya setiap hari lebih dari 70 kali”.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma berkata, “Kami biasa menghitung Rasulullah dalam satu majelis berkata sebanyak seratus kali,

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَ تُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَوَابُ الرَحِيمُ

 (Wahai tuhanku ampunilah aku dan terima taubatku, sesungguhnya engkau maha penerima taubat dan maha penyayang). (HR Abu Dawud dan Tirmidzy, dishohihkan oleh Tirmidzy).

Allah tabaraka wa ta’ala bertitah memerintahkan istighfar dalam beberapa tempat dalam Al-Qur’an, contohnya dalam ayat berikut ini.

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat. 106. Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS An-Nissa : 105-106)

Tak luput perintah istighfar tertera dalam ayat-Nya yang berbunyi,

Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. (QS Muhammad : 19)

Baca juga : 23 Dibanding 1, Ketimpangan Memanfaatkan Waktu

Jenis-jenis istighfar

Istighfar terbagi menjadi 2 jenis, yaitu : mutlak (bebas) dan muqoyyad (terikat waktu). Istighfar mutlak dapat dilakukan kapan saja, dalam keadaan apa saja. Seorang bijak bestari yaitu Luqman pernah berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, biasakan bibirmu berucap Allahummaghfirliy (Ya Allah ampunilah aku), karena Allah memiliki saat-saat dimana seorang yang meminta tidak akan ditolak permintaannya”.

Al-Hasan pernah berpetuah, “Perbanyaklah istighfar di rumah-rumah kalian, di jalan-jalan, di pasar-pasar, di majelis-majelis kalian dimanapun kalian berada, karena kalian tidak akan tahu kapan ampunan Allah akan turun”.

Momen Membaca Istighfar

Sedangkan Istighfar yang bersifat muqoyyad mempunyai momen-momen terkait pembacaannya, diantaranya pada waktu-waktu berikut ini.

Setelah shalat wajib

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Tsauban radhiyallahu’anhu dia berkata, “Rasulullah jika selesai melaksanakan shalat beristighfar 3 kali”.

Pasca melakukan dosa

Allah ta’ala berfirman,

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.(QS Ali Imran : 135)

Lantas Allah menerangkan dalam ayat yang lain,

Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan Menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS An-Nisaa : 110)

Diriwayatkan dalam As-Sunan dengan sanad yang hasan dari Ali radhiyallahu’anhu, beliau berkata, “apabila ada orang yang menyampaikan hadits kepadaku aku biasanya memintanya untuk bersumpah, jika dia bersumpah aku akan membenarkan haditsnya, dan Abu Bakar Ash-shidiq menyampaikan hadits kepadaku -dan Abu Bakar adalah orang yang jujur-, Rasulullah bersabda, “tidaklah seorang muslim berbuat dosa, kemudian dia berwudhu’ dan memperbagus wudhu’nya, kemudian shalat 2 raka’at, kemudian dia beristighfar kepada Allah kecuali Allah akan mengampuninya”.

Ketika keluar dari kamar mandi

Imam Abu Dawud, Tirmidzy dan selainnya meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu’anha bahwa Nabi shalallahu’alaihiwasalam jika keluar dari kamar mandi beliau membaca “غُفْرَانَكَ”.

Setelah tasyahud akhir sebelum salam

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari & Muslim dan selainnya, dari Abu Bakar Ash-Shidiq radiyallahu’anhu dia berkata kepada Rasulullah shalallahu ’alaihi wasalam, “Ajari aku sebuah doa yang aku baca dalam sholat, Rasulullah menjawab, katakanlah.

((اللهم إني ظلمت نفسي ظلما كثيرا, و لا يغفر الذنوب إلَّا أنت, فاغفر لي مغفرة من عندك

 و ارحمني, إنك أنت الغفور الرحيم))

Tertera dalam Shohih Muslim, hadits yang panjang dari sahabat Ali radhiyallahu’anhu dan sebagian bunyinya adalah, “Kemudian hendaknya yang dibaca diantara tasyahud dan salam.

((اللهم اغفر لي ما قدمت و ما أخرت, و ما أسررت و ما أعلنت و ما أسرفت, و ما أنت أعلم به مني, أنت المقدم و أنت المؤخر لا أله ألا أنت))

Saat ruku’ dan sujud

Disebutkan didalam Shahih Bukhari & Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha berkata, “Adalah Rasulullah banyak membaca dalam ruku’ dan sujudnya (Subhanakallahuma robbanaa wa bihamdika Allahumagh firlii)”.

Saat duduk diantara dua sujud

Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Baihaqy dengan sanad yang hasan, dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma dalam kisahnya menginap dirumah bibinya yaitu Maimunah, menceritakan sholatnya Nabi, “Beliau jika mengangkat kepalanya dari sujud membaca (Robbigh firlii warhamnii, wajburnii warfa’nii warzuqnii wahdinii)”.

Dalam riwayat Abu Dawud (wa’aafinii).

Ketika merasa sesak, sempit di dada dan beratnya masalah

Telah berlalu sabda Nabi shalallahu’alaihi wasallam, “Kelalaian benar-benar bisa menutup hatiku, dan sesungguhnya aku beristighfar….”.

Diriwayatkan dari Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam, “Barangsiapa yang membiasakan beristighfar, Allah akan menjadikan seluruh kesedihannya menjadi kelapangan, dan semua kesempitan menjadi kelonggaran dan diberi rizki dari arah yang tak terduga”. Isnadnya dho’if.

Seorang lelaki datang kepada Sa’id bin Musayyib dan berkata, “aku mengadu kepadamu akan kerasnya hatiku”. Sa’id berkata, “lembutkan hatimu dengan berdzikir kepada Allah dan perbanyaklah istighfar”.

Pada waktu sahur

Allah ta’ala berfirman,

(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.(QS Ali Imron : 17)

Dalam ayat yang lain,

Dan selalu memohonkan ampunan (beristighfar) diwaktu sahur.(QS Adz-Dzariyaat : 18)

Terekam dalam Shohih Bukhari, bahwa Allah ta’ala turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir dan berkata, “Adakah orang yang meminta pasti aku berikan, adakah orang yang berdoa maka akan aku kabulkan, adakah orang yang beristighfar pasti aku ampuni”, seperti itu sampai terbit fajar.

Lafadz – lafadz istighfar

Lafadz-lafadznya diantaranya adalah :

أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَ أَتُوْبُ إِلَيْه 

اَللّهُمَ اغْفِرْ لِي وَ تُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَوَابُ الرَحِيمُ

Sayyidul istighfar :

أَللَّهُمَ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلقْتَنِي وَ أَنَا عَبْدُكَ وَ أَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَ وَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ, أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ, أَبُوءَ لَكَ بِنِعْمَتَكَ عَلَيَّ وَ أَبُوءُ بِذَنْبِي فَا غْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam bersabda, “Barangsiapa yang membacanya dipagi hari dengan penuh keyakinan, kemudian dia meninggal pada hari itu sebelum sore hari maka dia akan masuk surga, dan barangsiapa yang membacanya dimalam hari dengan penuh keyakinan, kemudian dia mati pada malam itu sebelum pagi hari maka dia akan masuk surga”. (HR Bukhari)

Faidah yang didapatkan dari istighfar.

Disebutkan oleh Allah ta’ala dalam firmanNya yang berbunyi,

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, 11.Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, 12. Dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan Mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS Nuh : 10-12)

Didapati dalam ayat beberapa faidah, yaitu :

  • Diampuninya dosa dan kesalahan
  • Mendapatkan kebaikan yang banyak dan turunnya barokah
  • Diperbanyak harta-harta dan anak-anaknya, dsb.
  •  

Istighfar yang membuahkan hasil.

Perlu diketahui bahwasanya istighfar jika tetap dibarengi dengan keinginan hati untuk terus bermaksiat, tidak bermanfaat sedikitpun. Itu hanyalah menjadi doa yang kosong dari makna, jika Allah berkehendak akan mengabulkannya, jika tidak Allah akan menolaknya.

Akan tetapi istighfar yang membuahkan hasil adalah istighfar yang disertai dengan keselarasan antara hati dan lisan, merasa menyesal dengan apa yang telah lalu, dan berazzam untuk tidak melakukan perbuatan dosa dan maksiat kembali.

 

Mau artikel ini dalam bentuk dokumen ?

Silahkan download disini