Berpuasa di bulan Ramadhan hukumnya wajib bagi setiap muslim yang baligh dan berakal. Ini merupakan hal yang sudah jamak diketahui oleh orang muslim.

Namun terkadang muncul pertanyaan, kapankah seseorang boleh tidak berpuasa dan apa sajakah alasan yang membuat seseorang boleh tidak berpuasa, atau secara lebih singkatnya siapa saja yang boleh tidak berpuasa. Berikut ini adalah orang yang diberikan keringanan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan:

  1. Orang yang Sakit

Secara keumuman orang yang sedang sakit boleh untuk tidak berpuasa dan menggantinya di hari lain ketika sembuh. Namun sakit bagaimanakah sehingga diperbolehkan untuk berbuka? Paling tidak ada 3 keadaan :

  • Sakit ringan yang tidak berpengaruh apabila ia berpuasa, seperti pilek ringan, atau pusing ringan. Maka yang seperti ini tidak boleh untuk berbuka.
  • Akan bertambah sakitnya atau kesembuhannya menjadi tertunda dan sulit baginya untuk berpuasa, akan tetapi tidak membahayakannya. Keadaan ini disunahkan baginya untuk berbuka, dan makruh hukumnya apabila berpuasa.
  • Berat seandainya ia berpuasa, dan menjadi sebab membahayakan dirinya sampai tahap kematian. Keadaan seperti ini diharamkan baginya berpuasa. Berdasarkan firman Allah Ta’ala :

“Dan janganlan kalian membunuh diri-diri kalian.” (QS an-Nisa : 29)

  1. Musafir

Musafir adalah orang yang bepergian jauh (safar) meninggalkan daerahnya sendiri menuju tempat lain untuk suatu keperluan. Memang jarak yang dianggap itu sudah safar diperselisihkan oleh para ulama. Akan tetapi bisa dianggap telah melakukan safar orang yang bepergian menempuh jarak minimal 80km. Dan disyariatkan bagi orang yang safar untuk berbuka lantas menggantinya di hari-hari yang lain. Sebagaimana yang Allah firmankan :

“Barangsiapa yang sakit atau bepergian jauh (safar), untuk mengganti (puasa) di hari-hari yang lainnya.” (QS al-Baqarah : 185)

Namun apabila ia tetap melakukan puasa, maka terhitung sah puasanya. Bagi musafir ada 3 keadaan ditinjau apakah ia harus berpuasa atau tidak ketika safar :

1) Jika berpuasa memberatkan dirinya, dan sampai membahayakan dirinya, maka haram untuknya berpuasa.

Diceritakan ketika terjadi Fathu Makkah, para sahabat merasa berat untuk berpuasa. Sampai-sampai Rasulullah berbuka. Akan tetapi masih ada saja sahabat yang meneruskan puasanya. Maka Rasulullah berkata,”Mereka adalah orang yang bermaksiat, mereka adalah orang yang bermaksiat.” (HR Muslim)

2) Apabila puasa tidak terlalu memberatkan bagi dirinya, maka berpuasa dalam keadaan seperti ini makruh. Karena dia tidak mengambil apa yang Allah ringankan untuknya.

3) Jika puasa tidak memberatkannya, maka ia boleh berpuasa ataupun tidak.

  1. Orang tua yang sudah tidak mampu berpuasa

Para ulama sudah bersepakat bahwa orang tua yang sudah tidak mampu untuk berpuasa karena fisiknya lemah atau penyakit yang dideritanya, boleh baginya tidak berpuasa dan tidak perlu menqadha’ (mengganti puasa) di hari lain. Hanya perlu membayar fidyah sesuai jumlah hari yang ditinggalkannya.

  1. Wanita Hamil & Menyusui

Wanita yang sedang hamil maupun wanita yang masih menyusui anaknya diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Akan tetapi harus menggantinya di hari lain apabila sebabnya sudah hilang. Apabila ia merasa khawatir atas kandungannya, atau anak yang disusuinya, maka ia mengganti di hari lain dan membayar fidyah sejumlah puasa yang ditinggalkannya.

  1. Wanita Haidh & Nifas

Wanita yang sedang mengalami haidh maupun nifas mendapat keringanan dari syariat untuk tidak berpuasa Ramadhan. Berdasarkan sebuah berita dari Aisyah, ia mengatakan :”Kami dahulu haidh pada masa Rasulullah. Kemudian kami diperintahkan untuk mengganti puasa di hari lain dan kami diperintah untuk mengganti shalat yang ditinggalkan.” (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidziy, an-Nasa’i)

Referensi:

Panduan Lengkap Puasa Ramadhan Menurut al-Qur’an dan Sunnah, hlm. 38-40. Cet. Pustaka Al-Furqon.