Hari raya natal milik umat Nasrani yang jatuh setiap tanggal 25 Desember setiap tahunnya, menyisakan polemik bagi kaum Muslimin. Polemik ini berkisar tentang hukum memberikan ucapan selamat natal kepada mereka. Kaum Muslimin dalam hal ini terbagi menjadi 2 golongan dalam menyikapinya.

Golongan pertama adalah yang membolehkan ucapan selamat natal dengan dalih toleransi umat beragama. Sedangkan golongan kedua adalah yang mengharamkan ucapan selamat natal kepada non muslim, karena itu adalah bentuk toleransi yang terlarang dalam Islam. Lantas bagaimana sebenarnya pendapat hal yang benar dalam hal ini? berikut nukilan fatwa dari salah seorang ulama mengenai hukum ucapan selamat natal.

Fatwa Mengenai Ucapan Selamat Natal

Pertanyaan : Apakah hukum memberikan Selamat Hari Natal (Merry Christmas) kepada non muslim? Bagaimana cara kami membalas apabila mereka memberi selamat kepada kami? Apakah boleh pergi ke perayaan atau acara yang dibuat karena hari natal? Dan apakah berdosa apabila seseorang melakukan hal yang sudah disebutkan tadi tanpa ada niat apa-apa, hanya sekedar basa-basi, atau malu, atau karena tidak enak, atau karena sebab yang lain? Dan apakah diperbolehkan untuk bertasyabbuh (meniru) mereka pada hari itu?

Jawaban :

Mengucapkan selamat kepada non muslim ketika hari perayaan mereka seperti Natal atau yang lainnya secara  mutlak diharamkan. Sebagaimana dinukil oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya yang berjudul “Ahkamu Ahli Dzimmah” beliau mengatakan,”Ucapan selamat terhadap syiar-syiar kekafiran yang khusus bagi mereka hukumnya haram dengan kesepakatan para ulama. Seperti mengucapkan selamat atas perayaan dan puasa mereka dengan perkataan : “Hari raya yang diberkahi untukmu”, “Selamat atas hari rayamu”, atau selainnya. Orang yang mengucapkannya apabila tidak terjatuh dalam kekufuran, maka terjatuh dalam keharaman, karena mengucapkannya sama seperti bersujud kepada salib, bahkan lebih besar lagi dosanya di sisi Allah, dan lebih parah dibanding ucapan selamat kepada peminum khomer, pembunuh, pezina, dan selainnya.

Kebanyakan orang yang tidak paham agama terjatuh dalam hal itu (mengucapkan selamat natal, pent), dan tidak tahu bahwa perbuatannya adalah sesuatu yang buruk (dalam syariat, pent). Barangsiapa memberi ucapan selamat kepada hamba yang berbuat maksiat, atau bid’ah, atau kekufuran maka dia berhadapan dengan kemurkaan dan kemarahan Allah Ta’ala.    

Baca juga : Naik Pangkat Menjadi Wali Allah

Mengucapkan Selamat Natal = Ridho Terhadap Kekafiran

Ucapan selamat kepada orang kafir pada hari raya keagamaan mereka diharamkan sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Qoyyim, karena terdapat pengakuan terhadap syiar-syiar kekafiran, serta ridho terhadap kekafiran mereka, walaupun dia tidak ridho kekafiran itu untuk dirinya sendiri. Bagi seorang muslim haram merasa ridho terhadap syiar-syiar kekufuran serta mengucapkan selamat terhadap mereka. Karena Allah Ta’ala tidak ridho terhadap kekafiran sebagaimana disebutkan dalam firmanNya:

“Jika kamu kafir (ketahuilah) maka sesungguhnya Allah tidak memerlukanmu dan Dia tidak meridhai kekafiran hamba-hambaNya. Jika kamu bersyukur, Dia meridhai kesyukuranmu itu.” (QS. Az-Zumar : 27)

Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman:

“Pada hari ini telah kusempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmatKu bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (QS Al-Maidah : 3)

Dan memberikan selamat atas hari raya non muslim hukumnya haram, sama saja apakah dia mengikuti ritual keagamaannya ataupun tidak.

Membalas Ucapan Selamat Natal Dari Non Muslim

Apabila orang kafir mengucapkan selamat kepada kita saat hari raya mereka, maka kita tidak membalas ucapannya. Karena perayaan itu bukan milik kaum muslimin, juga perayaan itu tidak diridhoi oleh Allah. Baik perayaan itu merupakan bid’ah dalam agama mereka ataupun disyariatkan, akan tetapi itu semua dihapus dengan datangnya Islam. Sebab Allah Ta’ala telah mengutus nabi Muhammad ﷺ kepada seluruh makhluk. Allah Ta’ala berfirman :

“Barangsiapa mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima dan di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Ali Imran : 85)

 Adapun mendatangi undangan mereka hukumnya haram bagi seorang muslim. Hal itu lebih parah dibandingkan mengucapkan selamat saja, karena ada keikutsertaan pada perayaan tersebut.

Menyelenggarakan Acara Saat Natal

Begitu juga diharamkan bagi orang muslim untuk meniru non muslim dengan menyelenggarakan acara bertepatan dengan perayaan mereka, saling bertukar hadiah, membagikan permen, membagikan makanan, atau meliburkan pekerjaan, dan lain sebagainya. Berdasarkan sabda Nabi ﷺ “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan dalam kitabnya “Iqtidho Shirotil Mustaqim Mukholifatu Ahlil Jahim”,”Menyerupai orang kafir dalam perayaan agama mereka menjadikan hati merasa senang dengan kebathilan mereka. Kadang mereka memanfaatkan kesempatan untuk memberi makan dan merendahkan orang-orang lemah.

Barangsiapa yang memberi selamat atau ikut serta dalam perayaan orang kafir maka berdosa, sama saja dia melakukannya untuk basa-basi, pertemanan, rasa malu, atau alasan yang lain. Karena hal itu masuk dalam mudahanah (merendahkan diri) dalam agama Allah, dan sebab menguatnya kebanggaan orang kafir dan dirinya terhadap agama mereka.

Hanya kepada Allah kita meminta agar kaum Muslimin mulia dengan agamanya, dan memberikan karunia berupa ketaatan dalam agama, dan menolong kaum muslimin dari musuh-musuhnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.

(Majmu’ Fatawa wa Rosail Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin 3/44)

 

Mau artikel ini dalam bentuk dokumen ?

Silahkan download disini