Peminta-minta alias pengemis saat ini menjamur di banyak tempat. Di perempatan lampu merah kita temui pengemis menadahkan tangannya, meminta sedikit belas kasih dari para pengendara. Di terminal kita temui pengemis. Dalam bus kota tak ketinggalan ada pengemis. Bahkan di depan rumah kita terkadang disambangi pengemis.

Banyaknya pengemis ini mungkin dipengaruhi oleh kesejahteraan hidup yang tak kunjung membaik. Harga-harga kebutuhan pokok yang membumbung tinggi tak terkendali. Lapangan kerja juga sulit dicari. Sehingga banyak orang yang terpaksa menggantungkan hidupnya dari uluran tangan orang lain.

Selain terpaksa, ada juga orang-orang yang menjadikan mengemis sebagai profesi tetap. Walaupun usia mereka masih muda, dan tenaga masih sekuat kuda. Dengan modal wajah memelas, baju compang-camping, sambil menadahkan tangan, dapatlah mereka uang yang lebih dari cukup untuk kebutuhan hidup sehari. Padahal ada orang lain yang bekerja banting tulang seharian, pendapatannya tidak mampu melebihi mereka yang mengemis.

Islam Mengajarkan Kemandirian

Bila kita mau sedikit memperhatikan, banyak didapati kebanyakannya beragama Islam. Sedih memang. Agama Islam tidak mengajarkan umatnya untuk mengemis. Islam mengajarkan umatnya untuk berwirausaha dengan tangannya sendiri, tidak meminta-minta kepada orang lain. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

“Salah seorang kalian membawa seutas tali, kemudian mengambil seikat kayu bakar dan menjualnya, dengan itu Allah menyelamatkan mukanya, lebih baik daripada meminta-minta kepada manusia. Diberi ataupun ditolak.” (HR Bukhari 2373)

Selalu berusaha keras dan ulet untuk mencari kehidupannya adalah potret seorang muslim yang ideal. Rasulullah menggambarkan bahwa pekerjaan yang paling baik adalah pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri. Dalam sebuah sabdanya beliau menyatakan;

“Tidaklah seorang memakan suatu makanan sekalipun, lebih baik apabila berasal dari pekerjaan tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Dawud dahulu makan dari hasil pekerjaannya sendiri.” (HR Bukhari no. 2072)

Dengan bekerja maka seorang akan mendapatkan penghasilan dan memiliki ‘iffah atau harga diri di hadapan orang lain. Tidak terhinakan dengan meminta-minta.

Mengemis Sebagai Kebiasaan

Menjadikan mengemis sebagai suatu kebiasaan atau malah profesi padahal dirinya masih mampu untuk bekerja maka terlarang berdasarkan hadits di bawah ini. Walaupun ada orang yang menyebut pengemis sebagai pekerjaan, karena mengemis pun membutuhkan keahlian, tapi yang dimaksud di sini adalah bekerja yang jamak dilakukan kebanyakan orang seperti mengajar, berdagang, bertani, dan sebagainya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah memperingatkan jauh-jauh hari terhadap orang yang hanya bisa menadahkan tangan meminta belas kasihan, pada hari kiamat nanti ia akan dibangkitkan tanpa wajah, atau tanpa daging di wajahnya. Dalam sebuah hadits disebutkan;

 “Seseorang senantiasa meminta-minta kepada manusia, sampai nanti ia akan datang pada hari kiamat dan di wajahnya tidak ada sekerat dagingpun.” (HR Bukhari no. 1747 dan Muslim no. 1040)

Imam Nawawi menjelaskan maksud hadits di atas, beliau mengatakan; “Al-Qodhi mengatakan bahwa maknanya adalah pada hari kiamat nanti ia akan datang dalam keadaan rendah dan hina, tidak memiliki wajah di hadapan Allah. Makna yang lain yaitu sesuai dhohir hadits, ia akan di kumpulkan dan wajahnya hanya berupa tulang belulang tanpa daging, sebagai hukuman baginya dan tanda akan dosa yang telah dilakukannya ketika meminta-minta dengan wajahnya yang memelas.

 Sebagaimana datang dalam hadits-hadits yang lain dengan hukuman pada anggota badan yang melakukan maksiat. Hukuman ini berlaku bagi orang yang meminta-minta tanpa ada kebutuhan yang mendesak, yaitu meminta-minta yang dilarang. Kebanyakannya sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain, yaitu meminta-minta untuk memperkaya diri. Wallahu a’lam (Syarh Shahih Muslim 7/130)

Dalam sebuah hadits Rasulullah mempersamakan orang yang meminta-minta kepada orang lain seperti orang yang memakan bara api. Diriwayatkan dari Hubsyi bin Junadah radiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

“Barangsiapa meminta-minta kepada orang lain tanpa adanya kebutuhan, maka seolah-olah ia memakan bara api.” (HR Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Shahih al-Jami’us Shagir no. 6281)

Bisa dibayangkan betapa pedihnya memakan bara api. Mulut terasa panas terbakar. Kulit akan melepuh karenanya. Itulah hukuman dari Allah ‘Azza wa Jalla bagi orang yang sudah tidak memiliki rasa ‘iffah atau harga diri untuk meminta-minta kepada orang lain. Padahal ia dikaruniai akal yang mampu digunakan untuk berfikir, dan badan yang mampu untuk digunakan bekerja keras.

Meminta-minta yang Diperbolehkan

Semoga kita semua dihindarkan dari jeleknya adzab bagi peminta-minta sebagaimana pembahasan di atas. Perlu diketahui bahwa meminta-minta diperbolehkan dalam 3 keadaan sebagaimana dijelaskan dalam hadits Qabishah bin Mukhariq al-Hilali radiyallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Wahai Qabishah! Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal, kecuali bagi salah satu dari tiga orang: 1. Seseorang yang menanggung hutang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, kemudian berhenti. 2. Seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan 3. Seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada 3 orang yang berakal dari kaumnya mengatakan,”Si Fulan telah ditimpa kesengsaraan hidup.” Ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain untuk ketiga hal itu, wahai Qabishah! adalah haram, dan orang yang memakannya adalah memakan yang haram.” (HR Muslim no. 1044, Abu Dawud, Ahmad, Nasa’i)

Semoga kita semua dijauhkan dari mental senang meminta-minta alias mengemis kepada orang lain tanpa kebutuhan yang mendesak. Akhir kata, semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarganya, para sahabatnya, serta umatnya yang setia mengikuti tuntunan beliau sampai hari akhir nanti. Amiin.

 

Bukateja, 30 Januari 2015

Penulis : Djati Purnomo Sidhi