Akhir kehidupan seseorang di dunia ini adalah dua hal, tidak ada yang ketiga. Bisa jadi ia mendapatkan kenikmatan, ataukah kesengsaraan. Itu semua bukanlah seperti melempar sebuah koin, yang bisa saja muncul sisi depan atau sisi belakang. Akan tetapi merupakan suatu hasil dari amalan yang dikerjakan semenjak dilahirkan, hingga datanglah sang malaikat mencabut ruhnya.

Mati Bahagia vs Mati Sengsara di Dunia

Banyak cerita kita dengar mengenai bagaimana nikmatnya kematian. Ada yang menghadapinya sembari tersenyum. Ada juga yang merasakannya saat sedang shalat, ada yang menemui kematian saat menikmati lezatnya bermunajat di hadapan Rabb semesta alam. Alangkah bahagianya orang yang lisannya masih mengucapkan Laa Ilaha illallah di akhir hayatnya.

Namun tidak sedikit, cerita-cerita tragis kematian yang kita dapati. Ada orang yang mati namun mulutnya terus saja menyanyikan lagu-lagu yang berisi kefasikan. Ada yang mati dipelukan pelacur jalanan. Ada yang mati bunuh diri, karena sudah tak tahan dengan kehidupannya di dunia. Ada yang mati saat sedang melakukan hal yang haram.

Kita tidak tahu akhir cerita kematian seperti apakah yang akan kita dapatkan. Apakah mendapatkan akhir yang baik, ataukan memperoleh akhir yang buruk. Semoga kita semua mati dalam keadaan khusnul khotimah.

Kembali Ke Dunia Untuk Beramal

Untuk sekadar memotivasi diri kita agar lebih giat untuk beramal sholeh. Apakah kita tahu apa yang diandaikan oleh orang yang selama hidupnya hanya dipenuhi dengan pelanggaran?

Baik pelanggaran terhadap sesama manusia, atau pelanggaran terhadap titah dan maklumat dari Sang Raja Diraja Subhanahu wa Ta’ala. Keadaan orang kafir lagi ingkar kepada Allah Azza wa Jalla. Mereka mengerang dalam kuburnya. Seperti yang diceritakan dalam rangkaian firmanNya;

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (100)

“Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu, hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata :”Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal yang shaleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS al-Mukminun : 99-100)

Qotadah mengatakan,”Demi Allah, mereka tidak berangan-angan untuk kembali kepada keluarganya atau kerabatnya. Akan tetapi berharap agar kembali untuk beramal menjalankan ketaatan kepada Allah. Maka lihatlah angan-angan orang yang kafir lagi melampaui batas dan kerjakanlah dengannya. Tidak ada kekuatan selain Allah.” (Tafsir al-Qur’anil ‘adziem)

Harusnya ini mampu menyadarkan kita sebagai seorang muslim. Untuk senantiasa berpegang teguh dengan agama Islam dan menjalan syariat-syariatnya secara sempurna. Selalu memohon kepada sang pemilik hidayah yaitu allah Tabaraka wa Ta’ala agar diberikan keistiqomahan di atas agama Islam. Agar kita nantinya bukan termasuk orang-orang yang memohon agar dikembalikan ke dunia untuk beramal shalih. Amiin

 

Mau artikel ini dalam bentuk dokumen ?

Silahkan download disini