Hari ini kebanyakan orang membeli barang dengan cara kredit, terutama barang yang nilainya besar seperti rumah dan kendaraan. Bahkan ada yang bilang bahwa hampir mustahil untuk mendapatkan barang-barang itu tanpa harus kredit. Oleh karena itu, model jual beli dengan cara kredit menjamur dimana-mana dari perkotaan sampai pedesaan. Dari barang kelontong kebutuhan rumah tangga sampai yang nilainya ratusan juta rupiah.

Pengertian Jual Beli Barang Secara Kredit

Agar semakin jelas, perlu diketahui pengertian jual beli kredit itu sendiri. Pengertian jual beli dengan sistem kredit adalah jual beli yang dilakukan tidak secara kontandimana pembeli sudah menerima barang sebagai objek jual beli, namun belummembayar harga barang secara keseluruhan atau sebagiannya. Pembayaran dilakukansecara angsur sesuai dengan kesepakatan, baik dari segi jumlah angsuran atautempo pembayaran antara penjual dan pembeli.

Hukum kredit barang dalam Islam

Biasanya harga barang secara kredit berbeda dengan harga barang bila dibeli secara cash. Barang yang dibeli dengan cara kredit lebih mahal harganya, karena memang penjual tidak langsung menerima uangnya secara penuh pada saat itu juga, harus menunggu jangka waktu tertentu. Namun walaupun begitu, mayoritas ulama memperbolehkan jual beli dengan sistem kredit seperti ini. Di antara dalil-dalil yang dikemukakan oleh para ulama adalah sebagai berikut ;

Dalil pertama:

Keumuman firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمّىً فَاكْتُبُوهُ. البقرة: 282

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (Qs. Al Baqarah: 282)

Ayat ini merupakan dalil yang menunjukkan halalnya praktek hutang-piutang, sedangkan akad kredit merupakanbentuk akad hutang,maka ini menjadi dasar dibolehkannya akad kredit dari keumuman ayat.

Dalil kedua:

Hadits riwayat ‘Aisyah radhiaalahu ‘anha.

 “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammembeli sebagian bahan makanan dari seorang yahudi dengan pembayaran dihutang,dan beliau menggadaikan perisai beliau kepadanya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Pada hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli bahan makanan dengan pembayaran dihutang, dan sebagai jaminannya, beliau menggadaikan perisainya. Dengan demikian hadits ini menjadi dasar dibolehkannya jual-beli dengan pembayaran dihutang, dan perkreditan adalah salah satu bentuk jual-beli dengan pembayaran dihutang.

Dalil ketiga:

Hadits Abdullah bin ‘Amer bin Al ‘Ash radhiallahu ‘anhu.

“Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk mempersiapkan suatu pasukan, sedangkan kita tidak memiliki tunggangan, Maka Nabi memerintahkan Abdullah bin Amer bin Al ‘Ash untuk membeli tunggangan dengan pembayaran ditunda hingga datang saatnya penarikan zakat. Maka Abdullah bin Amer bin Al ‘Ash pun seperintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli setiap ekor onta dengan harga dua ekor onta yang akan dibayarkan ketika telah tiba saatnya penarikan zakat. Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Ad Daraquthni dan dihasankan oleh Al Albani.

Pada kisah ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kan sahabat Abdullah bin ‘Amer Al ‘Ash untuk membeli setiap ekor onta dengan harga dua ekor onta dengan pembayaran dihutang. Sudah dapat ditebak bahwa beliau tidak akan rela dengan harga yang begitu mahal, (200 %) bila beliau membeli dengan pembayaran tunai. Dengan demikian, pada kisah ini, telah terjadi penambahan harga barang karena pembayaran yang ditunda (terhutang).

Lihat penjelasan lengkap mengenai kredit disini : Hukum jual beli kredit

Inilah Bentuk Kredit yang Terdapat Riba

Transaksi kredit yang asalnya adalah boleh bisa berubah menjadi transaksi riba apabila dalam prakteknya terdapat tambahan harga barang yang sudah ditentukan di awal transaksi. Tambahan itu bisa berupa bunga, ataupun denda ketika orang yang membeli barang secara kredit terlambat untuk mengangsur. Karena para ulama telah menggariskan suatu kaidah fikih yang berbunyi, : “Setiap hutang piutang yang mendatangkan manfaat maka itu adalah riba”.

Bunga ataupaun denda yang dikenakan kepada orang yang membeli dengan cara kredit pada hakikatnya adalah manfaat yang didapat oleh penjual atau pemberi kredit. Oleh karena itulah, bunga atau denda keterlambatan dilarang dalam jual beli kredit.

Contoh pertama : Andi membeli jam tangan seharga Rp 1.500.000 dengan cicilan selama 10x dan bunga sebesar 10%. Maka setiap kali menyicil Andi membayarkan 150.000 pokok harga dan 15.000 untuk bunganya. Sehingga total menjadi 165.000 untuk sekali membayar angsuran. Ini yang disebut sebagai kredit mengandung riba.

Contoh kedua   : Budi membeli sepeda motor baru seharga 15.000.000 dengan cicilan selama 20 bulan. Maka setiap bulan Budi seharusnya membayarkan uang sebesar 750.000, namun ketika Budi terlambat membayar angsuran akan dikenakan denda sebesar 50.000, sehingga total menjadi 800.000. Maka ini juga termasuk dalam kredit mengandung riba.

Kredit Tanpa Mengandung Riba

Terus bagaimana caranya agar kredit yang dilakukan tidak mengandung riba dan larangan dalam jual beli yang lain, sehingga menjadi transaksi yang halal dan diridhoi oleh Allah? Paling tidak ada beberapa hal yang harus diperhatikan :

Barang harus sudah dimiliki oleh penjual

Syarat pertama ketika akan membeli barang secara cash maupun kredit adalah penjual sudah memiliki barang yang akan dijualnya, bukan baru mau pesan ke supplier ketika kita akan membelinya atau masih dalam proses pengiriman menuju tempat penjual.

Dasarnya adalah sebuah hadits dari Hakim bin Hizam beliau mengisahkan,”Aku mendatangi Rasulullah ﷺ dan aku berkata,”Ada seseorang menemuiku bermaksud membeli barang yang belum aku miliki, apakah akau membeli di pasar kemudian menyerahkan kepadanya?” Rasulullah ﷺ menjawab,”Jangan engkau jual barang yang belum engkau miliki.”(HR Tirmidziy, An-Nasa’iy, Abu Dawud, dinilai shahih oleh Al-Albaniy)

Harga barang harus sudah ditetapkan di awal transaksi

Ketika memutuskan untuk membeli barang secara kredit maka ketika terjadi transaksi harus sudah ada harga yang jelas dan disepakati oleh penjual dan pembeli. Tidak boleh salah satu pihak meninggalkan tempat transaksi tanpa ada kejelasan harga.

Boleh harga jual secara kredit lebih mahal dibandingkan harga jual secara cash

Boleh terjadi perbedaan harga pada barang yang dijual secara kredit dibandingkan dengan dijual secara cash. Perbedaan ini tidaklah masuk dalam kategori riba, karena riba terjadi ketika ada tambahan setelah pembeli memilih harga yang diinginkan dan terjadi kesepakatan dengan penjual. Maka boleh membuat perbedaan harga seperti contoh berikut : Harga cash 2.000.000, Kredit 10x harga 2.200.000, Kredit 15x, harga 2.500.000, kredit 20x harga 2.750.000.

Adapun larangan menjual barang dengan dua harga, para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah ketika penjual dan pembeli berpisah, belum ada harga yang disepakati oleh kedua belah pihak. Pembeli tidak menentukan apakah membeli secara cash, ataupun kredit.

Baca juga : Larangan Menggabungkan 2 Transaksi Jual Beli

Tidak boleh ada tambahan sedikitpun dari harga yang sudah ditetapkan di awal

Ketika pembeli sudah memilih harga yang akan diambil dan terjadi kesepakatan dengan penjual, maka sejumlah itulah yang harus dibayarkan oleh pembeli. Tidak boleh ada tambahan lagi diluar harga yang sudah disepakati, baik itu berupa bunga atau denda keterlambatan bayar.

Tidak boleh membeli emas dan perak dengan cara kredit

Keduanya tidak diperbolehkan untuk diperjualbelikan secara kredit karena termasuk dalam barang-barang ribawi dimana ‘illatnya sama dengan uang kertas atau logam yang beredar saat ini, yaitu termasuk benda berharga yang digunakan sebagai alat tukar. Sehingga tidak boleh melakukan transaksi secara tidak tunai, harus dilakukan secara kontan. Bila tidak maka akan terjatuh dalam riba nasi’ah.

Rasulullah ﷺ bersabda,”Apabila emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir,kurma dijual dengan kurma, garam dijual dengan garam, maka jumlah takaran atau timbangannya harus sama dan harus dibayarkan kontan. Apabila jenisnya berbeda,silakan engkau menukarkannya sesukamu asalkan dilakukan dengan kontan (tunai).”(HR Muslim no. 1587)

Mau artikel ini dalam bentuk dokumen ?

Silahkan download disini