Kunci Pintu Surga

Surga memiliki 8 pintu yang akan dimasuki oleh orang-orang yang beriman kelak. Maka daripada itu dibutuhkan kunci surga untuk membuka pintunya. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa salah satu cara untuk memasukinya adalah dengan kalimat “Laa ilaha illallah”. Dari Muadz bin Jabal ia berkata, Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda;

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah Laa ilaha illallah, maka orang tersebut akan masuk kedalam surga”. (HR Abu Dawud derajat hadits ini hasan)

Pada hadits yang lain Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda;

مَا مِنْ عَبْدٍ قَالَ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ, ثُمَّ مَاتَ عَلَى ذَلِكَ إِلَّا دَخَلَ الجَنَّةَ

 “Tidaklah seorang hamba mengucapkan Laa ilaha illallah, kemudian mati diatas hal tersebut kecuali ia akan masuk surga”. HR Bukhari & Muslim

Dari hadits di atas dapat diketahui bahwa Laa ilaha illallah adalah kunci surga, barangsiapa yang mengucapkannya akan Allah masukkan kedalam surgaNya yang luas. Yang dimaksud dalam hadits-hadits tersebut, tentu saja bukan sekedar ucapan di bibir saja, yang dimaukan adalah ucapan di bibir disertai kejujuran di dalam hati untuk menerima segala konsekuensinya. Hal tersebut tertuang dalam sabda Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam berikut ini.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Tidaklah seseorang bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah secara jujur dari hatinya, kecuali Allah haramkan baginya surga”. Muttafaqun ‘alaihi

Kunci tak bergigi

Setiap kunci umumnya memiliki gigi. Laa ilaha illallah adalah sebuah kunci, yang juga mempunyai gigi yaitu berupa konsekuensi yang harus dilaksanakan oleh pengucapnya.  Apabila kunci tersebut tidak bergigi, maka tidak akan berfungsi. Tidak bisa untuk membuka pintu surga yang dikehendaki. 

Ada seseorang yang berkata kepada Wahb bin Munabbih,”Bukankah Laa ilaha illallah adalah kunci surga?”, beliau berujar,”Tentu, akan tetapi tidak dikatakan sebagai kunci kalau tidak memiliki gigi, jikalau engkau menggunakan kunci yang bergigi maka akan dibukakan untukmu, apabila tidak, maka tidak akan terbuka untukmu”.[1]

Maka apa jadinya jika orang hanya mengucapkan kalimat syahadat saja tanpa melaksanakan konsekuensi yang dikandung kalimat tersebut? Yang akan terjadi adalah dia tidak akan bisa membuka pintu surga, karena kunci yang digunakan tidak bergigi.

Adapun gigi-gigi atau konsekuensi yang harus dipenuhi oleh orang yang mengucapkan Laa Ilaha Illallah ada 7 :

  1. Ilmu, artinya ia harus mengetahui makna Laa ilaha illallah
  2. Yakin, yaitu tidak ragu akan kandungan maknanya.
  3. Menerima seluruh konsekuensi yang terkandung dalam kalimat Laa ilaha illallah dengan lisan dan hatinya, dan tidak menolaknya.
  4. Tunduk dan patuh terhadap perintah Allah dan larangan yang terkandung dalam kalimat Laa ilaha illallah tersebut.
  5. Jujur, dalam artian sesuai antara apa yang diucapkan dengan yang diyakini dalam hati serta menjalani konsekuensinya.
  6. Ikhlas mengucapkannya karena Allah Ta’ala.
  7. Cinta terhadap kandungan yang ada dalam kalimat Laa ilaha illallah.

Itulah yang disebut dengan syarat Laa Ilaha Ilallah yang merupakan kunci surga. Bagi siapa saja yang mengucapkannya harus memenuhi ketujuh syarat dan konsekuensi yang diletakkan oleh para ulama.

Kandungan Kalimat Syahadat

Adapun konsekuensi yang terkandung dalam 2 kalimat syahadat adalah sebagai berikut :

Asyhadu an Laa ilaha illallah

Kita bersaksi bahwasanya Allah adalah satu-satunya Dzat yang berhak untuk kita sembah, dan sesembahan sesembahan selain Allah adalah bathil atau tidak diterima. Orang yang mengikrarkan syahadat yang pertama ini harus menetapkan sesembahan yang satu yaitu Allah ta’ala, dan menghilangkan segala bentuk kesyirikan dari dalam dirinya.

Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah

Dengan melafalkan syahadat yang kedua ini berarti kita mengakui bahwasanya utusan Allah yang wajib kita ikuti adalah Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam. Kita juga beribadah hanya dengan tuntunan yang diajarkan oleh beliau. Tidak menambahnya atau menguranginya.

Allah ta’ala berfirman yang artinya;

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS al-Kahfi : 110)

Perjumpaan dengan Allah ta’ala merupakan kenikmatan yang paling besar setelah kenikmatan memasuki pintu surga. Dan hal itu bisa diperoleh dengan menggunakan kuncinya yaitu Laa ilaha illallah disertai dengan konsekuensi yang dikandungnya. Ibnu Katsir menerangkan ayat di atas,”2 hal (beramal shaleh menurut bimbingan syariat dan meninggalkan kesyirikan, pent) itu adalah rukun amalan yang diterima oleh Allah. Harus ikhlas hanya ditujukan bagi Allah ketika beramal dan berada di atas syariat Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam.” (Tafsir Ibnu Katsir, hal. 304)

Semoga kita digolongkan menjadi hamba-hamba Allah yang memiliki kunci untuk memasuki surga yang kenikmatannya tiada tara. Dan mendapat kesempatan untuk melihat wajah Allah jalla wa ‘ala. Amiin

 

Mau artikel ini dalam bentuk dokumen ?

Silahkan download disini


[1] HR Bukhari, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (4/66)