Doa iftitah atau disebut juga istiftah adalah doa yang dibaca setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca surat al-Fatihah. Menurut jumhur ulama -Syafi’i, Ahmad, Abu Hanifah-, doa istiftah termasuk sunah dalam shalat[1].

Setiap madzhab fiqih memilih salah satu redaksi doa dari banyaknya redaksi doa yang ada. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut :

Doa Iftitah Menurut Madzhab Hambali

ولنا، ما روت عائشة، قالت: «كان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – إذا استفتح الصلاة، قال: سبحانك اللهم، وبحمدك، وتبارك اسمك، وتعالى جدك، ولا إله غيرك.» رواه أبو داود، وابن ماجه والترمذي.  

“Dalam madzhab kami, doa yang diriwayatkan oleh Aisyah radiyallahu‘anha, beliau berkata,”Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika memulai shalatnya beliau membaca : “Subhanakallahuma wa bihamdika wa tabarakasmuka, wa ta’ala jadduka, wa laa ilahaghoiruka.” HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan Tirmidzy[2].

Walaupun Hanabilah memilih doa ini, akan tetapi Imam Ahmad membolehkan berdoa dengan redaksi yang lain selama itu shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Doa Iftitah Menurut Madzhab Syafi’i

Adapun madzhab syafi’i, maka Imam Nawawi mengatakan :

وأما ما يستفتح به فقد ذكرنا أنه يستفتح بوجهت وجهي إلى آخره وبه قال علي بن أبي طالب

“Doa yang dibaca ketika istiftah telah kami sebutkan, yaitu membaca “Wajjahtu wajhiya liladzi…sampai akhir. Ini berasal dari riwayat Ali bin Abi Thalib[3].

Redaksi doa Iftitah

وَجَّهْتُ وَجْهِي لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالأْرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لاَ إِلَهَ إِلاأَنْتَ. أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ. ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا، إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ، وَاهْدِنِي لأِحْسَنِ الأْخْلاَقِ لاَ يَهْدِي لأِحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ. وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ. لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ بِيَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ وَأَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَّ[4]

Wajjahtu wajhiya liladzi fathoros samaawaati wal ardhi haniifan wa maa ana minal musyrikin. Inna shalaatiy wa nusukiy wa maa yahyaa wa mamaatiy lillahi robbil ‘aalamin. Laa syariika lahu wa bidzalika umirtu wa ana minal muslimin. Allahumma antal maliku laa ilaha illa anta. Anta robbiy wa ana ‘abduka. Dzolamtu nafsiy wa’taroftu bidzanbiy faghfir li dzunuubiy jamii’an. Innahu Laa yaghfirudz dzunuuba illa anta. Wahdiniy liahsanil akhlaqi laa yahdii liahsanihaa illa anta. Washrif ‘anniy sayyi’aha laa yashrifu ‘anniy sayyi’aha illa anta. Labbaika wa sa’daika wal khoiru kulluhu biyadaika. Wasy syarru laisa ilaika ana bika wa ilaika, tabaarakta wa ta’aalaita wa astaghfiruka wa atubu ilaika.

Arti Doa Iftitah

Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau dan Maha Terpuji. Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hambaMu. Aku telah menzhalimi diriku sendiri dan akui dosa-dosaku. Karena itu ampunilah dosa-dosaku semuanya. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni segala dosa melainkan Engkau. Tunjukilah aku akhlak yang paling terbaik. Tidak ada yang dapat menunjukkannya melainkan hanya Engkau. Jauhkanlah akhlak yang buruk dariku, karena sesungguhnya tidak ada yang sanggup menjauhkannya melainkan hanya Engkau. Aka aku patuhi segala perintah-Mu, dan akan aku tolong agama-Mu. Segala kebaikan berada di tangan-Mu. Sedangkan keburukan tidak datang dari Mu. Orang yang tidak tersesat hanyalah orang yang Engkau beri petunjuk. Aku berpegang teguh dengan-Mu dan kepada-Mu. Tidak ada keberhasilan dan jalan keluar kecuali dari Mu. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Kumohon ampunan dariMu dan aku bertobat kepadaMu

Doa Istiftah Menurut Madzhab Hanafi

Madzhab Hanafi memilih doa yang diriwayatkan oleh Aisyah. Sama seperti madzhab Hanbali. Penulis kitab al-Mabsuth mengatakan;

ثُمَّ يَقُولُ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إلَهَ غَيْرُكَ، جَاءَ عَنْ الضَّحَّاكِ – رَحِمَهُ اللَّهُ – فِي تَفْسِيرِ قَوْله تَعَالَى: {وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ} [الطور: 48] أَنَّهُ قَوْلُ الْمُصَلِّي عِنْدَ الِافْتِتَاحِ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَرَوَى هَذَا الذِّكْرَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عُمَرُ وَعَلِيٌّ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ -: «أَنَّهُ كَانَ يَقُولُهُ عِنْدَ افْتِتَاحِ الصَّلَاةِ»

“Kemudian mushali -orang yang shalat- membaca “Subhanakallahumma wa bihamdika, wa tabarakasmuka, wa ta’ala jadduka, wa laa ilaha ghoiruka”. Diriwayatkan dari adh-Dhahak ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala “Wa sabbih bihamdi rabbika hina taqumu” (ath-Thur : 48), yaitu perkataan mushali saat ifititah dengan membaca “Subhanakallahumma wa bihamdika…” redaksi ini diriwayatkan oleh Umar, Ali, dan Abdullah bin Mas’ud -radiyallahu ‘anhum, “Bahwasanya Rasulullah membacanya ketika iftitah.”[5]

Adapun Madzhab Malikiyah tidak menganggap disyariatkannya membaca doa istiftah ketika sholat wajib, namun diperbolehkan jika membacanya saat shalat sunnah.

Kesimpulan Bacaan Doa Iftitah

Inilah redaksi doa istiftah yang dipilih oleh masing-masing madzhab fiqih. Walaupun masih ada redaksi-redaksi doa lain yang berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita diperbolehkan memilih doa yang kita sukai selama doa tersebut berasal dari riwayat yang shahih. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad.

Bahkan lebih baik lagi apabila kita membacanya secara berselang-seling. Pada suatu waktu membaca doa ini, dan pada waktu yang lain membaca doa yang itu. Faidahnya agar kita berkonsentrasi dalam shalat sehingga shalat akan menjadi khusyuk. Karena doa kita berusaha menghayatinya, berbeda dengan doa yang dibaca karena kebiasaan saja.

Wallahu Ta’ala a’lam.

Artikel sobathijrah.com
Djati Purnomo Sidhi

Mau artikel ini dalam bentuk dokumen ?

Silahkan download disini


[1]               Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah (27/88)

[2]               Al-Mughni (1/342)

[3]               Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab (3/321)

[4]               HR Muslim

[5]               Al-Mabsuth (1/12)