Namaku Na

Namaku Na, singkat bukan. Seorang mahasiswi bercadar yang berada di tingkat akhir sebuah ptn di provinsi Jawa Timur. Bergelut dengan tumpukan kertas skripsi menjadi rutinitasku akhir-akhir ini. Sama seperti mahasiswa lain yang sedang mengejar dua buah huruf di akhir nama.

Namun aku sedikit berbeda, bukan karena aku tidak normal. Tidak. Allah mengaruniakan kesempurnaan kepadaku, dalam artian semuanya lengkap seperti manusia pada umumnya.

“Sungguh Kami telah ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS at-Tin : 4)

Mereka bilang aku adalah akhwat bercadar. Yups. Dalam keseharianku baik di kampus maupun di rumah singgah (tempat kosku) atau dimanapun, selembar kain penutup wajah itu selalu setia menutupi wajahku. Bukan tanpa alasan aku memakainya, buku diaryku sudah penuh dengan beribu alasan mengapa aku kini mengenakan cadar.

Mendalami ilmu agama, menjadi muslimah bercadar, apalagi dalam fase anak kuliah bukanlah impianku sejak kecil. Menjadi seorang wanita karir, memakai sepatu hak tinggi, mempunyai meja kerja pribadi di perusahaan yang cukup bonafid, adalah alasan aku menginjakkan kaki di kota ini. Untuk kuliah. Di kota yang bahkan aku tak tahu seluk beluknya, hanya tahu…ooo kota ini ada di peta Indonesia.

Awal masuk kuliah, aku sama saja seperti mahasiswi kebanyakan. Celana jins ketat, baju panjang, dan kerudung paris berwarna-warni menjadi mode harian untuk berangkat ke kelas dan tempat praktikum. Tilawah al-Qur’an dan shalat lima waktu, ajaran orang tua semenjak kecil yang masih aku jaga. Tapi pemahaman agama bisa dibilang masih standar, sekadar untuk mendapatkan nilai lulus di mata kuliah itu.

Awal Berhijab Syar’i

Segala puji bagi Allah yang mengaruniakan kepada hambaNya yang lemah ini, teman-teman yang baik. Teman-teman yang baik itu membuat aku tertular dengan wanginya. Sebagaimana sabda sang baginda Nabi menggambarkan permisalannya;

“Permisalan teman yang shalih dan teman yang buruk, adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Dari penjual minyak wangi, dia bisa menghadiahkan dagangannya kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau kau dapati aroma harum semerbak darinya. Sedangkan pandai besi, percikan apinya dapat membakar bajumu, atau kau dapati bau gosong darinya.” (HR Bukhari & Muslim)

Mulailah ghirahku untuk mempelajari agama Islam muncul. Aku diajaknya menghadiri kajian-kajian keislaman yang saat itu sudah cukup marak di kota ini. Buku-buku tentang islam mulai kuajak berkhalwat di pojok kamar. Aku haus. Haus akan ilmu mengenai pemahaman agama yang benar.

Setiap kali menghadiri kajian, melihat para ummahat (ibu-ibu pengajian) yang memakai pakaian syar’i membuatku dilema. Atau ketika membaca buku yang menceritakan bagaimana seharusnya hijab bagi muslimah, aku merasa ada tangan yang menampar pipiku. Aku masih begini. Harus ada perubahan pikirku. Akhirnya pakaian-pakaian yang biasa aku kenakan dahulu, mulai kutanggalkan. Kubiasakan untuk memakai rok panjang dan kerudung yang bukan asal-asalan lagi, kerudung yang menutupi dada. Sesuai perintah dalam al-Qur’an. 

Itulah cerita awalku memakai hijab. Hijab yang benar-benar hijab. Hijab yang hakekatnya menutupi, bukan hijab yang mengajak orang lain untuk melihatnya lagi dan lagi. Aku merasa menjadi the real muslimah.

Godaan Setelah Berhijab Syar’i

Walaupun kini aku sudah berusaha untuk berhijab syar’i, entah mengapa masih saja ada yang menggangguku. Ku artikan itu sebagai gangguan. Meski hanya lirikan mata ketika aku lewat, atau telpon dan sms berkali-kali dari nomor yang tidak aku kenal. Bukannya apa. Namaku sudah terlanjur menjadi buah bibir di fakultas ini. Penyiar radio pun tak luput menyampaikan salam dari entah siapa untukku.

Ini gejolak awalku ketika memakai hijab. Bertubi tubi pertanyaan menghunjam relung kalbuku. Bukankah ketika memakai hijab kita akan terlindungi? Dengan hijab bukankah muslimah tidak akan diganggu? Tapi masih saja gangguan itu muncul. Dan berbagai pertanyaan lain yang terus saja berkecamuk di dalam pikiranku.

Apa yang salah? Aku yakin bukan hijabku yang salah. Yah. Ternyata wajahku masih menjadi sumber fitnah bagi orang lain.

Memutuskan Untuk Bercadar
mahasiswi dan muslimah bercadar

Bulan April, Aku beranikan diri memakai cadar ke kampus. Mungkin aku baru satu-satunya yang memakai sehelai kain penutup wajah ini di fakultasku, walaupun di fakultas lain sudah ada kakak tingkat yang mendahuluiku. Terasa sekali pandangan-pandangan aneh tertuju ketika aku berjalan. Sapaan ramah yang biasa aku dapatkan dari teman-teman, berganti dengan raut wajah kebingungan. Siapa ini?

Ujian Dalam Bercadar

Aku tak tahan. Aaaaarrrgggghhhhh. Duniaku yang dulu serasa menghilang. Candaan teman, sapaan hangat, obrolan santai, tak lagi kudapatkan. Dengan berat hati, kulepas cadarku. Kembali menjadi Na seperti dahulu lagi.

Pergolakan batin terus saja terjadi dalam diriku. “Kok begini ya aku. Bukannya sudah aku putuskan untuk memakai cadar, mengapa harus aku lepas lagi?”

Aku bertanya kepada teman-temanku. Bagaimana baiknya. Tak lupa minta saran juga kepada orang yang aku anggap paham masalah ini. Hasilnya, ada yang mendukung. Ada juga yang menghujatku habis-habisan.

Aku tidak sedang mempermasalahkan hukum memakai cadar antara wajib dan sunnah, tapi apa yang terbaik untukku? walaupun aku meyakini hukumnya sunnah muakkadah.

1 Ramadhan menjadi titik balik hidupku. Aku putuskan untuk memakai cadar dan tak akan melepaskannya lagi. Aku tak mau menjadi sumber fitnah bagi orang lain, mengantarkan mereka untuk berbuat dosa melihat wajahku.

Ya Allah….berilah hamba keistiqomahan sampai utusanMu datang mencabut ruhku. 

 

Mau artikel ini dalam bentuk dokumen ?

Silahkan download disini