Bercanda merupakan salah satu cara untuk mencairkan suasana yang tegang. Bercanda juga dapat menjadi terapi untuk menghilangkan stres. Hukum bercanda dalam Islam diperbolehkan atau mubah, karena dalam riwayat pun didapati bahwa Nabi Muhammad pernah bercanda. Akan tetapi ada rambu-rambu dalam bercanda yang harus diperhatikan, diantaranya adalah sebagai berikut :

Isi Candaan Tidak Mengandung Unsur Keagamaan

Materi yang disampaikan ketika bercanda jangan sampai menyinggung keagamaan seperti bercanda tentang Allah, ayat-ayatNya, sunnah-sunnah Rasulullah maupun syiar-syiar agama Islam yang lain.

Dahulu orang-orang yang menjadikan para pembaca Al-Qur’an di sisi nabi sebagai bahan bercanda mendapatkan teguran dari Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman :

“Dan jika kamu tanyakan kepada orang-orang munafik (tentang apa yang mereka lakukan) tentulah mereka akan menjawab : “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”, katakanlah : “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kalian selalu berolok-olok ?”, tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman…” (QS. At Taubah, 65 – 66).

 

Candaan yang Dilakukan Tidak Mengandung Kebohongan

Ketika berniat untuk membuat candaan hendaknya tidak perlu membuat cerita bohong atau rekayasa agar orang yang mendengar tertawa. Cukupkan dengan membuat candaan dengan hal yang benar-benar terjadi. Sehingga tidak masuk dalam ancaman Nabi ﷺ dalam haditsnya yang berbunyi :

“Celakalah orang yang bercerita kemudian dia berbohong agar orang yang mendengarnya tertawa. Celaka untuknya, celaka untuknya.” (HR Ahmad dan dinilai hasan oleh Al-Albaniy)

Tidak Menyakiti Orang Lain Termasuk Adab Bercanda

Satu hal yang perlu diperhatikan di antara adab bercanda adalah jangan sampai candaan merugikan orang lain. Baik dengan menyembunyikan barang miliknya, atau menyakitinya seperti memukul, menendang, dan lain-lain. Semisal dengan prank yang sedang viral saat sekarang ini, dimana banyak unsur merugin korban yang terkena prank.

Rasulullah ﷺ bersabda,”Tidak boleh salah seorang mengambil barang temannya baik serius maupun bercanda, jika dia mengambil tongkat temannya hendaknya segera mengembalikannya.” (HR Ahmad dan Abu Dawud, dinilai hasan oleh Al-Albaniy)

Baca Juga : Prank, Candaan yang Membawa Petaka

Pilih Orang Ketika Bercanda

Diantara adab bercanda yang perlu diperhatikan adalah, ketika akan bercanda maka lihat dulu siapa yang akan diajak bercanda , kalau memang itu lebih tua umurnya, atau kita tahu dia akan marah dan tidak suka ketika ada orang bercanda, maka jangan dilakukan dengan mereka. Karena bisa masuk dalam perbuatan yang tidak sopan jika kepada yang lebih tua, atau jika orangnya tidak suka bercanda akan marah kepada kita. Begitu juga jangan bercanda denga lawan jenis yang bukan mahram. Dikarenakan hal itu dapat menimbulkan celah terjadinya fitnah, berupa hubungan yang tidak halal kedepannya.

Termasuk Adab Bercanda Adalah Tidak Banyak Bercanda

Bercanda dalam hidup ibarat garam dalam masakan, keberadaanya penting namun ketika terlalu banyak malah mengakibatkan masakan menjadi tidak karuan rasanya. Begitu juga dengan bercanda yang terlalu banyak, akan menimbulkan efek negatif bagi diri sendiri. Efek negatif seorang yang suka bercanda adalah terkadang orang tidak memiliki rasa hormat kepadanya. Karena suka bercanda ini sudah menjadi sifat yang mendarah daging, akhirnya orang akan meremehkannya dan sulit untuk serius dengannya.

Jadi ketika berniat untuk bercanda, perhatikan selalu sobat adab bercanda yang telah digariskan dalam agama Islam. Jangan sampai niat bercanda untuk mencairkan suasana, malah menjadi ajang memperbanyak dosa. Karena konten candaan yang banyak melanggar syariat.

 

Mau artikel ini dalam bentuk dokumen ?

Silahkan download disini