“Si fulan kok gak pernah kelihatan di pengajian lagi ya? Biasanya dia sudah datang dan duduk di barisan paling depan”. Mungkin itu pertanyaan sekilas seseorang yang mendapati temannya sudah lama tidak datang ke pengajian. Dia yang dulu rajin menghadiri majelis taklim dan pengajian, sekarang hilang bak ditelan malam. Tidak nampak lagi batang hidungnya.

Fenomena itu bukanlah hal yang asing dalam dunia dakwah. Seseorang yang dulunya sangat bersemangat untuk mereguk ilmu agama, tiba-tiba jarang menghadiri lagi pengajian dan majelis taklim. Bahkan ada yang tidak pernah mendatanginya lagi. Bukan hanya satu orang saja, tapi sudah banyak orang yang berguguran di medan dakwah ini. Sebabnya karena kehilangan suatu hal yang sangat berharga, atau malah sengaja menghilangkannya.

Hal itu adalah hidayah. Hidayah memang sangat mahal lagi berharga, tidak sembarang orang yang mendapatkannya. Karena hidayah merupakan suatu nikmat yang diberikan sesuai kehendak Allah tabaraka wa ta’ala. Bahkan nabi kita pun tidak dapat memberikan hidayah kepada paman yang dicintainya.  Diceritakan dalam Shahih Bukhari & Muslim bagaimana kronologi menuju detik-detik kematian Abu Thalib.

“Ketika Abu Thalib menghadapi sakaratul maut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatanginya. Di sana sudah ada Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah bin al-Mughirah. Lantas Rasulullah berkata kepada pamannya,”Wahai pamanku, katakan Laa ilaha illallah. Suatu kalimat yang aku bersaksi untukmu dengannya di hadapan Allah”. Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah mengatakan :”Wahai Abu Thalib, apakah engkau membenci agama Abdul Muthalib?”. Rasulullah terus saja mengulang-ulang ajakannya. Sampai kalimat terakhir yang diucapkan Abu Thalib ia tetap memeluk agama Abdul Muthalib. Akhirnya Allah menurunkan firmanNya mengenai Abu Thalib, dan berkata kepada Rasulullah shallallahu’alahiwasallam :

إِنَّكَ لَا تَهۡدِي مَنۡ أَحۡبَبۡتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ٥٦

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS al-Qashah : 56). (HR Bukhari & Muslim)

Begitulah hidayah, sekuat apapun kita berusaha untuk mendapatkannya tidak akan pernah tercapai apabila tidak dikehendaki oleh Allah ta’ala. Hidayah yang dimaksud di sini adalah hidayah taufik. Akan tetapi jika Allah ta’ala ingin memberikan hidayah taufik tersebut, siapa yang dikehendakinya pasti akan mendapatkannya. Siapapun orangnya. Walaupun ia seorang yang palik buruk di muka bumi ini.

Hidayah yang diberikan oleh Allah bagi hambaNya dapat diibaratkan seperti sebatang pohon. Apabila sang pemilik hidayah ini menyirami, memupuk, dan merawat pohonnya dengan baik, maka pohon tersebut akan tumbuh menjulang tinggi yang pada akhirnya dapat dipetik hasilnya. Berbeda dengan orang yang Allah ta’ala berikan hidayah kepadanya. Ia malas dan enggan untuk memelihara hidayah tersebut, tidak menyirami, serta merawatnya dengan baik, maka hidayah itu akan layu dan akhirnya mati. Tidak bermanfaat bagi pemiliknya. Maka hendaklah hidayah itu dijaga dengan baik. Sambutlah hidayah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Seruan beliau diabadikan oleh Allah dalam firmanNya;

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti”. (QS Ali Imran : 193)

Sangat disayangkan sekali, apabila Allah ta’ala memberikan kenikmatan berupa hidayah mengenal dakwah kemudian membiarkannya mati dari dalam hatinya. Untuk itulah perlu bagi kita untuk melakukan kiat-kiat berikut, agar hidayah yang kita dapatkan menghujam kuat di dalam hati. Di antaranya adalah :

  1. Berdoa Memohon Ketetapan Hidayah

Doa adalah senjata kaum muslimin. Senjata untuk mengetuk pintu-pintu langit, sehingga Allah menurunkan apa yang dipinta oleh hamba-hambaNya. Allah mengajarkan bagi hamba-hambanya doa untuk menjaga hidayah yang sudah Allah berikan kepada kita. Doa itu tertera dalam firmanNya;

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”. (QS Ali Imran : 8)

Ada juga sebuah doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam untuk meminta keistiqomahan dalam agama. Diceritakan ada orang yang berkata kepada Ummu Salamah,”Wahai Ummul mu’minin, apa doa yang paling banyak dibaca oleh Rasulullah ketika beliau bersamamu?”, beliau menjawab,”Rasulullah sering sekali membaca doa;

يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Wahai Dzat yang membolak-balikan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamaMu !

Akupun bertanya (Ummu Salamah),”Wahai Rasulullah kenapa doa itu yang sering sekali engkau baca?”. Rasulullah menuturkan,”Wahai Ummu Salamah, tidak ada seorang manusia pun kecuali hatinya ada di antara jari jemari Allah. Siapa yang Allah kehendaki akan diberikan keistiqomahan, dan siapa yang dikehendakiNya akan disesatkan”. (HR Tirmidziy no. 3522, hadits hasan)

  1. Mendatangi Majelis Ilmu

Seorang yang telah mengecap manisnya hidayah , haruslah menyiraminya dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi akhiratnya. Karena majelis ilmu sendiri adalah majelis berkumpulnya para malaikat. Dimana ketenangan, rahmat, dan kasihsayang Allah tertumpah di sana. Begitu juga majelis ilmu adalah salah satu taman dari taman-taman surga. Rasulullah sendiri menghasung umatnya untuk mendatangi majelis ilmu. Beliau bersabda yang artinya;

“Jika kalian melewati taman-taman surga maka mampirlah”. (HR Tirmidzy no. 3510, hadits hasan gharib)

  1. Berteman Dengan Orang Shaleh

Teman sangat memberikan pengaruh bagi diri kita. Sifat yang kita miliki biasanya tidak jauh berbeda dengan karakter yang dimiliki oleh teman dekat kita. Oleh karena itu kita perlu selektif dalam memilih teman dekat. Yaitu memilih teman dekat yang sudah jelas keshalihannya. Apalagi dalam hal beragama. Teman yang shalih akan sering mengingatkan kita untuk berbuat kebaikan, dan menasehati kita ketika melakukan kesalahan.

Pantaslah Rasulullah bersabda mengingatkan kita perihal teman dekat. Beliau menegaskan dalam sebuah hadits yang artinya;

“Seorang itu berada di atas agama teman dekatnya. Hendaknya kalian memperhatikan siapa yang kalian jadikan teman dekat.” (HR Ahmad, Tirmidzy, Abu Dawud, al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman. Isnadnya dinyatakan shahih oleh an-Nawawiy, dan dinyatakan hasan gharib oleh Tirmidzy)

Penting sekali bagi kita yang ingin menjaga hidayah yang telah kita miliki untuk senantiasa berteman, dan berkumpul dengan orang-orang yang shaleh. Menjaga diri dan agamanya dari berbagai fitnah yang bertebaran pada zaman ini.

  1. Mengamalkan Ilmu yang Sudah dipelajari

Setelah kita menjaga hidayah ini dengan menuntut ilmu dan mendatangi majelis-majelis ilmu. Wajib bagi kita untuk mengamalkan ilmu yang sudah dimiliki. Karena ilmu dituntut bukan sebagai hiasan belaka. Ataupun sekadar menambah wawasan keagamaan. Akan tetapi ilmu yang hakiki adalah ilmu yang bisa menumbuhkan amalan.

Ali bin Abi Thalib mengatakan,”Ilmu itu mengajak kepada amalan, apabila diterima ajakan itu maka ilmunya akan langgeng, jika tidak maka ilmu akan meninggalkannya.”

Imam Ahmad bin Hanbal menuturkan,”Pokok ilmu adalah rasa takut kepada Allah”. Maka peliharalah rasa takut kepada Allah dalam ramai maupun sepi. Karena makhluk yang paling baik adalah yang takut kepada Allah. Dan tidaklah takut kepadaNya kecuali seorang alim. Jadi sebaik-baik makhluk adalah seorang alim. Tidak samar lagi bahwa tidaklah disebut sebagai alim kecuali orang itu mengamalkan ilmunya. Tidak mungkin seorang alim beramal dengan ilmunya kecuali ia memelihara rasa takutnya kepada Allah ta’ala”. (Hilyah Thalibul Ilmi, hal. 145-146).

Semoga dengan kiat-kiat di atas kita bisa menjaga hidayah yang telah Allah berikan. Tanpa menyia-nyiakannya. Sehingga penyesalan yang tersisa apabila hidayah itu benar-benar di cabut oleh Sang Rahman.

artikel sobathijrah.com