Berbagai pandangan tentang waktu

Berbicara mengenai waktu, mungkin akan banyak sekali topik yang bisa diangkat. Setiap orang memiliki perspektif pribadi dalam mendefinisikannya. Ada yang mendefinisikan waktu sebagai komoditi yang bisa menghasilkan keuntungan, sebut saja Time is money contohnya. Orang arab mengibaratkan masa sebagai pedang, apabila tidak digunakan untuk memotong sesuatu maka pedang tersebut yang akan memenggal pemiliknya.

Cukup menarik sebetulnya, melihat berbagai pandangan orang tentang waktu. Tapi bagaimanakah Islam memandang waktu, apakah seperti putaran roda yang terabaikan dan tak pernah terhitung banyaknya, ataukah ia mempunyai suatu kedudukan yang penting?

Allah ta’ala berbicara mengenai masa di dalam kitabNya, tepatnya dalam Surat Al-‘ashr Allah ‘azza wa jalla berfirman :

Demi masa (Q.S Al-‘ashr : 1)

            Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala bersumpah dengan masa / waktu. Sehingga dapat diketahui bahwasanya waktu memiliki kedudukan yang amat agung dalam agama ini, dikarenakan Allah jalla wa ‘ala menjadikannya sebagai media dalam sumpahNya.

Islam memandang waktu

            Sebagaimana tertera di dalam surat Al-‘ashr, waktu di dalam Islam menempati tempat yang penting. Bahkan bisa dikatakan sebagian besar syariat Islam selalu berkaitan dengan waktu. Allah menjelaskan tentang sholat dalam firmanNya yang berbunyi.

Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (Q.S An-nisa: 103)

            Masih banyak syariat-syariat Islam yang berkaitan dengan waktu selain sholat, misalnya : puasa, zakat, haji, umroh, dzikir, dan lain sebagainya.

            Masih dalam surat Al-‘ashr, bahkan Allah tabaraka wa ta’ala mengatakan bahwasanya manusia senantiasa dalam kerugian kecuali orang-orang yang mempergunakan waktunya dalam hal-hal yang disebutkan Allah dalam lanjutan ayatNya.

Demi masa. (2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, (3) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”(Q.S Al-‘ashr [103] : 1-3)

Bagaimana Seorang muslim mempergunakan waktunya

            Allah subhanahu wa ta’ala mengumumkan kerugian bagi umatNya yang tidak bisa mempergunakan masa yang dimilikinya dengan baik. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam mengabarkan bahwa 2 nikmat yang paling sering dilalaikan oleh manusia adalah sehat dan waktu luang. Para Ulama tak henti-hentinya berwasiat untuk menggunakan masa yang ada untuk mencari keridhoan Allah jalla jalaaluhu.

            Semua itu seharusnya bisa membuat seorang muslim untuk merenung sejenak, meresapi dan memikirkan bahwa masa adalah nikmat Allah yang sangat besar. Seharusnya ia mensyukuri nikmat waktu yang diberikan oleh Allah dengan memanfaatkannya dalam amalan ketaatan kepadaNya, tidak serta merta menggunakannya dalam kemaksiatan dan disia-siakan berlalu begitu saja.

23 dibanding 1

            Mungkin muncul di benak pembaca mengenai judul yang tertera di awal tulisan, apakah artikel ini berbicara mengenai matematika sehingga mempergunakan perbandingan? Tapi setelah membaca awal tulisan kok malah berbicara mengenai waktu.

            Itu adalah perbandingan yang berkaitan dengan masa yang diberikan oleh Allah ta’ala kepada setiap makhlukNya dalam sehari. Setiap manusia diberikan jumlah jam yang sama yaitu 24 jam setiap harinya. Beragam cara untuk menghabiskannya, berbeda setiap individunya.

            Dari 24 jam yang tersedia kebanyakan kita menggunakanya untuk tidur dan beristirahat  6-8 jam, kemudian untuk belajar formal 6 jam sehari atau kurang dari itu bagi yang sudah duduk di jenjang kuliah, untuk belajar di rumah mungkin 2 jam, untuk menonton tv 3 jam, untuk perjalanan mungkin 1 jam, untuk main hp, laptop kita asumsikan 2 jam, untuk bersantai ria ada 3 jam. Total menjadi 23 jam sehari.

            Lalu 1 jam untuk apa? 1 jam tersebut umumnya digunakan untuk melaksanakan sholat wajib 5 waktu beserta sholat-sholat sunah, membaca Al-Qur’an, membaca buku-buku keagamaan dalam sehari.

Baca juga : Malaikat Saja Tidak Malu Mengucapkan Tidak Tahu

Ketimpangan Memanfaatkan Waktu

            Namun sungguh sayang, dalam sehari yang notabene 24 jam separuh lebih masa kita gunakan dalam hal-hal yang bersifat duniawi. Yang tersisa hanyalah 1 jam untuk hal-hal yang bersifat ukhrowi (akhirat). Bahkan ada yang kurang dari 1 jam, dan yang lebih parah lagi ada yang tidak mengingat akherat kecuali hanya dalam beberapa sholat wajib yang bolong-bolong.

            Padahal Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa akhirat lebih baik dan kekal daripada kehidupan dunia yang fana. Allah berfirman :

“Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Q.S Al-A’la: 17)

            Apakah mungkin untuk akhirat yang jelas-jelas kekal abadi dan terdapat berbagai macam kenikmatan yang belum pernah muncul di benak seorang manusia pun, kita hanya mengalokasikan sedikit waktu kita? Ini benar-benar sesuatu yang mengherankan sekali.

            Sudah saatnya kita memproporsionalkan penggunakan waktu kita sebagai seorang muslim dalam setiap harinya. Tambahkan masa untuk beramal shalih, membaca Al-Qur’an berserta tafsirnya, membaca buku-buku keagamaan dll.

            Jangan sampai kita menjadi orang yang rugi dalam mempergunakan waktunya, tidak mengetahui perkara-perkara agama karena ketidakmauan dalam mempelajarinya.

            Lurus dalam beragama dan sukses didunia adalah potret seorang muslim yang ideal, berbeda dengan orang yang sukses di dunia namun tidak cakap dalam urusan agama. Hanya murka Allah ‘azza wa jalla yang didapat dan kerugian di akhirat.

 

Mau artikel ini dalam bentuk dokumen ?

Silahkan download disini